Kalau kamu sering melihat aplikasi atau website dengan dark mode UI/UX, mungkin kamu pernah berpikir bahwa membuatnya cukup dengan mengganti background putih menjadi hitam. Tinggal ubah warna background, ganti teks menjadi putih, lalu selesai. Padahal, dark mode membutuhkan lebih banyak pertimbangan supaya tampilan tetap nyaman dilihat, informasi mudah dibaca, dan setiap elemen memiliki hierarki yang jelas.
Dark mode memang bisa membuat sebuah produk digital terlihat modern dan elegan. Namun, kalau kamu hanya membalik warna light mode menjadi gelap, hasilnya justru bisa membuat teks terlalu menyilaukan, tombol kehilangan penekanan, atau warna brand terlihat aneh. Karena itu, sebelum membuat dark mode, kamu perlu memahami prinsip dasarnya agar desain tetap nyaman digunakan sekaligus memiliki struktur visual yang kuat.
Kenapa Dark Mode Bukan Sekadar Background Hitam?
Kesalahan paling umum ketika membuat dark mode adalah menganggap semua warna pada light mode cukup dibalik menjadi versi gelap. Misalnya, background putih diganti hitam, teks hitam diganti putih, lalu warna lainnya dibiarkan sama. Cara seperti ini memang terlihat sederhana, tetapi belum tentu menghasilkan tampilan yang nyaman.
Dark mode perlu mengatur kembali hubungan antara background, teks, tombol, kartu, border, dan elemen lainnya. Setiap elemen membutuhkan tingkat penekanan yang berbeda supaya pengguna tetap bisa memahami struktur halaman dengan mudah. Jadi, kamu tidak hanya mengubah warna, tetapi juga perlu memikirkan readability, contrast, hierarchy, dan visual identity dari produk tersebut.
Perhatikan Contrast dan Keterbacaan
Kalau kamu membayangkan dark mode, mungkin kombinasi pertama yang muncul adalah background hitam dengan teks putih. Kombinasi tersebut memang menghasilkan contrast yang sangat kuat, tetapi contrast yang terlalu tinggi juga bisa membuat tampilan terasa kurang nyaman, terutama ketika pengguna membaca banyak teks dalam waktu lama.
Karena itu, banyak desain dark mode menggunakan dark gray daripada hitam pekat. Untuk teks, kamu juga tidak selalu perlu menggunakan putih 100%. Warna putih yang sedikit lebih redup atau abu-abu terang dapat membantu mengurangi kesan terlalu menyilaukan, terutama pada area yang berisi banyak teks.
Selain memilih warna yang terlihat bagus, kamu juga perlu memastikan teks memiliki contrast yang cukup dengan background. Teks abu-abu tua di atas background hitam, misalnya, mungkin terlihat cukup baik ketika kamu melihat desain dari jauh. Namun, saat pengguna membaca paragraf panjang, contrast yang rendah dapat membuat proses membaca terasa lebih berat.
Untuk accessibility, kamu bisa menggunakan WCAG 2.2 sebagai salah satu acuan. Pada level AA, standar tersebut menetapkan rasio contrast minimum 4,5:1 untuk teks normal dan 3:1 untuk teks berukuran besar. Jadi, jangan hanya mengandalkan perkiraan mata ketika menentukan warna teks dan background. Kamu juga bisa menggunakan contrast checker untuk memastikan kombinasi warna memiliki keterbacaan yang lebih baik.
Baca Juga: Ini Dia 4 Teori Warna UI/UX yang Bikin Desainmu Naik Level
Gunakan Surface dan Warna untuk Membangun Hierarchy
Dark mode juga membutuhkan hierarchy yang jelas. Jangan membuat semua bagian halaman menggunakan satu warna gelap yang sama karena hasilnya bisa terlihat datar. Pengguna akan kesulitan membedakan mana background utama, kartu, dialog, navigation bar, atau bagian lain yang memiliki fungsi berbeda.
Kamu bisa menggunakan beberapa tingkat dark surface untuk membuat perbedaan tersebut. Misalnya, background utama menggunakan warna paling gelap, kemudian card menggunakan warna yang sedikit lebih terang, sedangkan modal atau elemen penting menggunakan surface yang lebih terang lagi. Perbedaan kecil seperti ini sudah cukup membantu pengguna memahami struktur halaman.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan elevation. Pada tampilan terang, kamu mungkin menggunakan shadow untuk menunjukkan bahwa sebuah card berada di atas background. Dalam dark mode, kamu tidak selalu bisa mengandalkan shadow dengan cara yang sama. Perbedaan warna surface sering kali justru membantu menunjukkan hubungan antar elemen dengan lebih jelas.
Pendekatan serupa bisa kamu lihat pada Material Design, yang menggunakan beberapa tingkat surface untuk membantu membedakan elemen pada tampilan gelap. Kamu tidak harus mengikuti sistem tersebut secara persis, tetapi konsepnya bisa menjadi referensi ketika mulai menyusun warna background, card, dan elemen lainnya.
Selain surface, perhatikan juga penggunaan warna yang terlalu saturated. Warna seperti biru neon, hijau terang, atau merah yang sangat kuat memang terlihat mencolok, tetapi ketika kamu menaruhnya di atas background gelap, efek visualnya bisa terasa jauh lebih kuat. Akibatnya, pengguna justru lebih fokus pada warna tersebut daripada informasi yang sebenarnya ingin kamu sampaikan.
Cobalah menggunakan warna yang sedikit lebih lembut dan sesuaikan saturation sesuai kebutuhan. Kamu tetap bisa mempertahankan accent color sebagai bagian dari identitas visual, tetapi jangan sampai warna tersebut mengambil perhatian dari seluruh halaman.
Sesuaikan Warna Brand dengan Dark Mode
Warna brand dari light mode belum tentu cocok ketika kamu gunakan pada dark mode. Sebuah warna mungkin terlihat seimbang di atas background putih, tetapi bisa terlihat terlalu terang, terlalu mencolok, atau memiliki contrast yang berbeda ketika kamu menempatkannya di atas background gelap. Misalnya, sebuah produk menggunakan warna biru terang sebagai warna utama. Pada background putih, warna tersebut mungkin terlihat cukup seimbang. Namun, ketika kamu meletakkannya di atas background gelap, warna yang sama bisa terlihat jauh lebih dominan.
Karena itu, lakukan sedikit penyesuaian terhadap warna brand ketika membuat dark mode UI/UX. Kamu bisa mengatur kembali saturation atau brightness supaya warna tetap terlihat jelas tanpa mengganggu elemen lainnya. Dengan begitu, identitas visual produk tetap terasa sama, tetapi tampilannya menyesuaikan dengan lingkungan dark theme. Membuat dark mode juga bukan berarti kamu harus membuat desain terlihat seperti produk yang berbeda. Kalau produkmu memiliki warna brand, bentuk tombol, typography, atau karakter visual tertentu, elemen tersebut sebaiknya tetap terasa ketika pengguna berpindah tema.
Bayangkan sebuah aplikasi memiliki warna brand biru. Ketika pengguna mengaktifkan dark mode, kamu tidak harus mengganti seluruh warna menjadi ungu hanya supaya terlihat lebih modern. Pertahankan karakter utama brand tersebut, kemudian sesuaikan brightness atau saturation agar warna tetap cocok dengan background gelap. Dengan cara ini, pengguna tetap merasa menggunakan produk yang sama meskipun tampilannya berubah. Dark mode seharusnya menjadi variasi dari visual identity produk, bukan membuat identitas tersebut hilang.
Dark Mode Tidak Selalu Lebih Nyaman untuk Semua Pengguna
Satu hal penting lainnya adalah dark mode tidak otomatis lebih nyaman untuk semua orang. Kenyamanan pengguna bisa berbeda tergantung kondisi lingkungan, jenis layar, tingkat brightness, serta kebutuhan visual masing-masing pengguna.
Ada orang yang lebih nyaman menggunakan dark mode ketika berada di ruangan dengan pencahayaan rendah. Namun, ada juga pengguna yang justru lebih mudah membaca teks dengan tampilan terang. Karena itu, jangan menganggap dark mode sebagai solusi yang selalu lebih baik daripada light mode.
Kalau produkmu menyediakan pilihan tema, berikan pengguna kebebasan untuk memilih tampilan yang paling nyaman bagi mereka. Kamu juga bisa mempertimbangkan opsi seperti mengikuti pengaturan sistem perangkat agar pengguna tidak perlu mengganti tema secara manual.
Hal ini menunjukkan bahwa dark mode bukan hanya keputusan visual. Kamu perlu melihat bagaimana pengguna berinteraksi dengan produk dalam kondisi yang berbeda. Desain yang terlihat bagus di Figma belum tentu terasa nyaman ketika pengguna menggunakannya pada malam hari, di luar ruangan, atau dengan tingkat brightness layar yang berbeda.
Hindari Kesalahan Umum dan Uji Desain Sebelum Digunakan
Kalau kamu baru belajar UI/UX, ada beberapa kesalahan sederhana yang perlu kamu hindari. Pertama, menggunakan background hitam pekat untuk seluruh halaman. Kedua, menggunakan teks putih 100% pada semua elemen. Ketiga, mempertahankan warna brand dari light mode tanpa mengecek kembali contrast dan saturation-nya.
Kesalahan lainnya adalah membuat semua surface memiliki warna yang sama. Akibatnya, card, navigation, modal, dan background terlihat menyatu. Kamu juga perlu menghindari penggunaan accent color secara berlebihan karena warna yang terlalu mencolok dapat mengganggu hierarchy.
Sebelum menganggap desain dark mode selesai, lihat kembali keseluruhan halaman dan periksa prioritas setiap elemen. Pastikan heading tetap lebih menonjol daripada body text, tombol utama masih mudah ditemukan, dan card memiliki perbedaan yang cukup jelas dari background. Jika pengguna masih bisa membedakan prioritas serta fungsi setiap elemen, hierarchy pada desainmu sudah berada di arah yang tepat.
Setelah itu, uji desain dalam beberapa kondisi. Coba lihat tampilannya pada tingkat brightness layar yang rendah maupun tinggi, kemudian perhatikan apakah teks, tombol, dan elemen penting masih mudah dikenali. Langkah sederhana ini dapat membantu kamu menemukan masalah yang tidak terlihat ketika hanya melihat desain di Figma.
Cara Sederhana Membuat Dark Mode yang Lebih Nyaman
Kamu tidak perlu langsung membuat sistem dark mode yang sangat kompleks. Mulailah dengan menentukan beberapa warna utama seperti background, surface, primary text, secondary text, border, dan accent. Setelah itu, tentukan hubungan antarwarna tersebut agar setiap elemen memiliki tingkat penekanan yang jelas.
Selanjutnya, cek contrast pada teks dan elemen penting. Jangan lupa melihat bagaimana warna brand bekerja pada background gelap. Kalau terlihat terlalu terang atau terlalu mencolok, lakukan penyesuaian pada brightness dan saturation.
Dark mode yang baik juga tidak harus menggunakan warna hitam sepenuhnya. Kamu bisa mengombinasikan beberapa tingkat dark gray, surface, dan warna teks untuk menghasilkan tampilan yang tetap sederhana tetapi memiliki struktur yang jelas.
Pendekatan tersebut membuat proses perancangan menjadi lebih terarah. Alih-alih sekadar mengganti warna light mode, kamu mulai membangun sistem visual yang memang dirancang untuk kondisi gelap.
Dark Mode UI/UX yang Baik Tetap Memprioritaskan Pengguna
Pada akhirnya, dark mode UI/UX bukan sekadar mengganti background putih menjadi hitam. Kamu perlu memikirkan contrast agar teks mudah dibaca, menggunakan dark surface untuk membangun hierarchy, menyesuaikan warna brand, serta mengontrol saturation supaya tampilan tidak terasa terlalu mencolok.
Kamu juga perlu ingat bahwa dark mode tidak harus terlihat super gelap untuk dianggap berhasil. Penggunaan dark gray, surface yang bertingkat, dan warna teks yang tidak terlalu terang justru bisa menghasilkan tampilan yang lebih nyaman dan terstruktur.
Jadi, kalau selama ini kamu mengira dark mode hanya membutuhkan satu perubahan warna, sekarang kamu sudah tahu bahwa ada banyak keputusan desain di baliknya. Dark mode UI/UX yang baik bukan yang paling hitam atau paling keren secara visual, tetapi yang tetap membuat pengguna mudah membaca, memahami, dan menggunakan produk tanpa merasa terganggu.