Gak Cuma Figma! 4 Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan

Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan, Gak Cuma Figma!

Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, kemungkinan besar Figma jadi tools pertama yang kamu pelajari. Memang tidak ada yang salah dengan itu karena banyak desainer juga memulai perjalanan mereka dari sana. Namun, skill UI/UX yang dicari perusahaan ternyata tidak berhenti di kemampuan membuat tampilan yang rapi atau menyusun prototype. Saat masuk ke dunia kerja, perusahaan biasanya mencari desainer yang mampu memahami pengguna, bekerja sama dengan tim, dan ikut membantu menyelesaikan masalah melalui desain.

Banyak pemula merasa sudah cukup percaya diri setelah menguasai berbagai fitur di Figma. Mereka bisa membuat wireframe, menyusun component, atau bahkan membuat desain yang terlihat menarik. Padahal, kemampuan menggunakan tools hanyalah langkah awal. Perusahaan lebih menghargai desainer yang mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan desain daripada sekadar menghasilkan tampilan yang estetik.

Pahami Design System Sejak Awal

Banyak perusahaan sekarang menggunakan design system supaya proses desain berjalan lebih konsisten dan efisien. Karena itu, mereka juga mulai mencari desainer yang memahami cara menggunakan, mengembangkan, dan menjaga konsistensi design system. Skill ini membantu tim bekerja lebih cepat karena semua orang menggunakan komponen, warna, dan gaya desain yang sama dalam setiap produk.

Kamu tidak harus langsung membuat design system yang rumit untuk mempelajarinya. Mulailah dari proyek sederhana dengan membiasakan diri menggunakan component, style, dan aturan desain yang konsisten. Kebiasaan kecil seperti ini akan membuat proses desainmu terasa lebih rapi sekaligus menunjukkan bahwa kamu sudah memahami cara kerja tim desain di perusahaan.

Baca juga: UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu?

Jangan Lewatkan Pentingnya User Research

Desain yang bagus tidak selalu berasal dari ide desainer sendiri. Banyak keputusan desain justru muncul setelah tim memahami kebutuhan dan kebiasaan pengguna. Karena itu, banyak perusahaan mencari desainer yang mampu melakukan user research. Melalui proses ini, desainer dapat mengidentifikasi masalah yang benar-benar pengguna alami sebelum merancang solusi.

User research tidak selalu berarti melakukan penelitian yang rumit. Kamu bisa memulainya dengan wawancara sederhana, menyebarkan kuesioner, atau mengamati bagaimana seseorang menggunakan sebuah aplikasi. Dari proses tersebut, kamu akan menemukan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan saat hanya melihat desain dari sudut pandangmu sendiri.

Manfaatkan AI dengan Bijak untuk Meningkatkan Skill UI/UX

Saat ini, banyak tools AI yang membantu desainer bekerja lebih cepat. Kamu bisa menggunakannya untuk mencari inspirasi, membuat wireframe, menyusun microcopy, atau mempercepat proses brainstorming. Namun, perusahaan tidak mencari desainer yang hanya mengandalkan AI. Mereka justru lebih menghargai orang yang tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan pemikiran sendiri.

Karena itu, kamu tidak perlu menjadi ahli AI untuk mulai berkarier di bidang UI/UX. Cukup pahami bagaimana AI membantu proses desain tanpa menggantikan kreativitas maupun kemampuan berpikir kritis. Dengan cara itu, kamu bisa memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaan, bukan sebagai satu-satunya andalan.

Skill UI/UX yang Dicari Perusahaan: Membuat Micro-interactions

Pernah memperhatikan animasi kecil saat menekan tombol, membuka menu, atau menerima notifikasi di sebuah aplikasi? Detail seperti itu disebut micro-interactions. Walaupun terlihat sederhana, elemen kecil ini membuat pengalaman pengguna terasa lebih hidup dan membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di dalam aplikasi.

Perusahaan mulai memberikan perhatian lebih pada micro-interactions karena detail kecil sering memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengguna. Kamu tidak perlu membuat animasi yang berlebihan. Fokus saja pada feedback sederhana yang membantu pengguna memahami setiap tindakan yang mereka lakukan saat menggunakan aplikasi.

Jadi, Apakah Jago Figma Sudah Cukup?

Jawabannya tentu belum. Perusahaan tidak hanya menilai kemampuan menggunakan Figma, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan merancang pengalaman pengguna. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memecahkan masalah, memahami pengguna, berkolaborasi dengan tim, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan produk. Itulah alasan kenapa skill UI/UX di luar Figma mulai menjadi nilai tambah yang cukup penting.

Kalau kamu ingin berkarier sebagai UI/UX Designer, jangan berhenti setelah merasa nyaman menggunakan Figma. Mulailah mempelajari design system, membiasakan diri melakukan user research, memanfaatkan AI secara bijak, dan memahami pentingnya micro-interactions. Semakin banyak pengalaman yang kamu bangun di bidang tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk menarik perhatian perusahaan dan berkembang sebagai desainer profesional.

Gak Cuma Figma! 4 Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan
By Special Skill Indonesia
| 22 Juli 2026

Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, kemungkinan besar Figma jadi tools pertama yang kamu pelajari. Memang tidak ada..

Machine Learning Masih Layak Dipelajari? Ini Faktanya
By Special Skill Indonesia
| 20 Juli 2026

Kalau kamu mengikuti perkembangan teknologi beberapa tahun terakhir, pasti sering mendengar istilah Machine Learning. Di sisi lain, kemunculan..

5 Skill Digital Marketing yang Wajib Dikuasai Pemula
By Special Skill Indonesia
| 17 Juli 2026

Skill Digital Marketing menjadi bekal penting kalau kamu ingin membangun karier di dunia pemasaran digital. Banyak orang tertarik..

Special Skill Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top