Jangan Asal Bikin UI! Kenali Design System Dulu
Kalau kamu baru belajar UI/UX, mungkin semangatmu langsung mengarah ke Figma. Kamu mulai membuat tombol, kartu, ikon, sampai halaman aplikasi karena ingin melihat hasil desain secepat mungkin. Cara belajar seperti ini memang tidak salah, tetapi banyak pemula sering melewatkan satu hal penting, yaitu design system. Akibatnya, desain yang awalnya terlihat rapi justru berubah berantakan ketika jumlah halamannya semakin banyak atau saat harus mengerjakan proyek bersama orang lain. Padahal, banyak perusahaan justru mengandalkan sistem desain untuk menjaga kualitas produk digital mereka. Mereka tidak membuat setiap halaman dari nol. Mereka menyusun komponen yang sudah memiliki aturan jelas, lalu menggunakannya secara berulang agar proses desain menjadi lebih cepat dan konsisten. Nah, kalau kamu ingin berkembang sebagai UI/UX Designer, memahami design system sejak awal akan memberikan keuntungan yang besar. Apa Itu Design System? Sederhananya, design system adalah kumpulan aturan, komponen, dan panduan yang membantu desainer membuat tampilan antarmuka secara konsisten. Isinya bukan hanya kumpulan tombol atau warna, tetapi juga mencakup penggunaan tipografi, ikon, jarak antar elemen, hingga cara setiap komponen digunakan dalam berbagai kondisi. Dengan begitu, setiap orang dalam satu tim bisa menghasilkan desain yang memiliki tampilan dan pengalaman yang seragam. Bayangkan kamu membuat beberapa halaman aplikasi. Semua halaman tentu membutuhkan tombol, kolom pencarian, kartu produk, atau menu yang bentuknya sama. Daripada membuat semuanya berulang kali, kamu cukup memakai komponen yang sudah tersedia. Nah, itulah cara kerja design system. Kamu tinggal menggunakan komponen yang sama di berbagai halaman sehingga desain tetap konsisten dan prosesnya jauh lebih cepat. Kenapa Banyak Pemula Melewatkannya? Banyak pemula ingin segera menghasilkan desain yang menarik. Mereka lebih fokus memilih warna, mencari ilustrasi, atau membuat tampilan yang estetik. Di sisi lain, mereka sering menganggap design system hanya dibutuhkan perusahaan besar. Padahal, kebiasaan seperti ini justru membuat proses belajar menjadi kurang efisien ketika proyek mulai berkembang. Misalnya, kamu membuat lima halaman aplikasi dengan tombol yang ukurannya berbeda-beda. Setelah selesai, kamu baru menyadari kalau semua tombol harus memiliki ukuran yang sama. Kalau kamu tidak memakai design system, kamu harus memperbaiki semuanya satu per satu. Sebaliknya, kalau sejak awal kamu menggunakan komponen yang sama, kamu cukup mengubah satu komponen dan seluruh halaman akan ikut menyesuaikan. Design System Membuat Desain Lebih Konsisten Salah satu manfaat terbesar design system adalah menjaga konsistensi desain. Pengguna akan merasa lebih nyaman ketika setiap halaman memiliki tampilan yang seragam. Mereka tidak perlu menyesuaikan diri setiap kali berpindah halaman karena posisi tombol, ukuran teks, maupun warna utama tetap sama. Pengalaman seperti inilah yang membuat sebuah aplikasi terasa lebih profesional. Selain membantu pengguna, konsistensi juga memudahkan desainer. Kamu tidak perlu lagi mengingat ukuran tombol, memilih warna yang sama berulang kali, atau menebak jarak antar elemen. Semua aturan sudah tersedia sehingga kamu bisa lebih fokus menyelesaikan masalah pengguna daripada mengatur detail yang sebenarnya sudah memiliki standar. Baca juga: 5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI Proses Desain Jadi Lebih Cepat Selain menjaga konsistensi, design system juga membantu kamu bekerja lebih efisien. Kamu cukup membuat satu komponen, lalu menggunakannya berkali-kali di berbagai halaman. Saat ingin memperbarui desain, kamu hanya perlu mengubah komponen utamanya. Semua halaman yang menggunakan komponen tersebut akan ikut berubah secara otomatis sehingga kamu bisa menghemat banyak waktu. Cara kerja seperti ini juga sering digunakan oleh tim desain di perusahaan teknologi. Mereka harus mengembangkan produk yang memiliki puluhan bahkan ratusan halaman. Tanpa sistem yang terstruktur, proses revisi akan memakan waktu jauh lebih lama dan peluang munculnya kesalahan juga semakin besar. Kapan Waktu yang Tepat untuk Mulai Belajar? Kamu tidak perlu menunggu menjadi UI/UX Designer profesional untuk mulai mempelajari design system. Justru semakin cepat kamu mengenalnya, semakin mudah juga kamu membangun kebiasaan yang baik saat mendesain. Setelah memahami dasar penggunaan Figma, cobalah membuat komponen sederhana seperti tombol, kolom input, atau kartu produk. Setelah itu, gunakan komponen yang sama di berbagai halaman agar kamu terbiasa bekerja secara konsisten. Seiring bertambahnya pengalaman, kamu bisa mulai mempelajari design system yang digunakan oleh perusahaan besar seperti Material Design atau Human Interface Guidelines. Dari sana, kamu akan memahami bagaimana perusahaan membangun produk digital yang konsisten sekaligus mudah dikembangkan oleh banyak desainer dan developer. Mulai Biasakan Menggunakan Design System Kalau tujuanmu hanya membuat satu halaman desain, mungkin kamu belum terlalu merasakan manfaat design system. Namun, ketika proyek mulai berkembang dan jumlah halamannya bertambah, kamu akan menyadari betapa pentingnya sistem yang rapi sejak awal. Itulah alasan banyak perusahaan menjadikan design system sebagai bagian penting dalam proses desain produk digital. Mulai sekarang, jangan langsung fokus membuat tampilan yang menarik. Biasakan menyusun komponen yang konsisten, menetapkan aturan desain, lalu gunakan kembali komponen tersebut di seluruh halaman. Kebiasaan sederhana ini akan membuat proses belajarmu lebih terarah sekaligus membantu kamu mempersiapkan diri menghadapi cara kerja UI/UX Designer di dunia profesional.









