UI/UX Design

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI
UI/UX Design

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI

Beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) benar-benar mengubah cara banyak orang bekerja. Sekarang, berbagai tools sudah bisa membantu membuat wireframe, menyusun user flow, sampai menghasilkan tampilan antarmuka hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah profesi UI/UX Designer masih punya masa depan yang menjanjikan? Wajar kalau pertanyaan itu muncul, apalagi setiap hari selalu ada teknologi baru yang terus berkembang. Kalau kamu juga memiliki kekhawatiran yang sama, tenang dulu. Sampai hari ini, perusahaan tetap membutuhkan UI/UX Designer yang mampu memahami kebutuhan pengguna dan menyelesaikan masalah lewat desain. AI memang bisa mempercepat proses kerja, tetapi teknologi ini belum mampu menggantikan empati, cara berpikir, dan kreativitas manusia. Justru sekarang menjadi waktu yang tepat untuk belajar memanfaatkan AI sebagai pendukung, bukan sebagai pesaing. UI/UX Designer Perlu Melihat AI Sebagai Partner Kerja Banyak orang langsung menganggap AI sebagai ancaman karena mampu menghasilkan desain dalam waktu singkat. Padahal, kamu bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya berulang. Misalnya, mencari referensi desain, membuat beberapa alternatif layout, atau merangkum hasil user research. Dengan begitu, kamu punya lebih banyak waktu untuk memikirkan solusi terbaik bagi pengguna. Seorang UI/UX Designer tetap memegang kendali dalam setiap keputusan desain. Kamu yang menentukan arah produk, memilih solusi yang paling relevan, lalu memastikan setiap elemen benar-benar membantu pengguna mencapai tujuannya. Selama kamu menggunakan AI sebagai alat bantu, teknologi ini justru bisa membuat proses desain menjadi lebih efisien. Jangan Berhenti Melatih Cara Berpikir Seorang Desainer Banyak tools sekarang mampu menghasilkan tampilan yang terlihat menarik. Namun, tampilan yang bagus belum tentu mampu menyelesaikan masalah pengguna. Karena itu, seorang UI/UX Designer perlu terus melatih kemampuan berpikir kritis dan memahami alasan di balik setiap keputusan desain. Kemampuan inilah yang membuat hasil kerjamu memiliki nilai lebih dibanding sekadar desain yang terlihat estetik. Saat mengerjakan sebuah proyek, biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Masalah apa yang sedang aku selesaikan?” atau “Apakah solusi ini benar-benar memudahkan pengguna?”. Kebiasaan sederhana seperti ini akan membentuk pola pikir yang jauh lebih penting daripada sekadar menguasai banyak tools. Gunakan AI untuk Mempercepat Proses Belajar Kalau dulu kamu harus membuka banyak artikel atau menonton video selama berjam-jam untuk mencari jawaban, sekarang kamu bisa memanfaatkan AI sebagai teman belajar. Kamu bisa meminta penjelasan tentang prinsip desain, berdiskusi mengenai design system, atau mencari ide ketika mengalami creative block. Cara ini membantu kamu memahami konsep dengan lebih cepat sekaligus memperluas sudut pandang. Meski begitu, jangan langsung menerima semua jawaban yang diberikan AI. Biasakan membandingkan informasi tersebut dengan dokumentasi resmi, guideline, atau pengalaman para praktisi. Kebiasaan ini akan membuat proses belajarmu menjadi lebih kritis sekaligus membantu kamu membangun pemahaman yang lebih kuat. Baca juga: Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna? Kenali 5 Tandanya Bangun Portofolio yang Menunjukkan Proses Berpikirmu Saat ini, banyak orang bisa menghasilkan desain yang menarik dengan bantuan AI. Karena itu, perusahaan tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana proses berpikirmu. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memahami masalah, melakukan user research, menentukan prioritas, lalu memilih solusi yang paling tepat untuk pengguna. Kalau kamu sedang menyusun portofolio, jangan hanya menampilkan hasil desain yang sudah jadi. Ceritakan juga proses yang kamu lalui, tantangan yang kamu hadapi, serta alasan di balik setiap keputusan desain. Portofolio seperti ini akan membantu perusahaan memahami kemampuanmu sebagai UI/UX Designer, bukan sekadar melihat hasil visualnya. Terus Asah Kemampuan yang Tidak Bisa Digantikan AI Teknologi memang terus berkembang, tetapi beberapa kemampuan tetap menjadi keunggulan manusia. Misalnya, kemampuan berempati, berkomunikasi dengan stakeholder, berdiskusi bersama tim, dan memahami kebutuhan pengguna dari berbagai sudut pandang. Semua kemampuan tersebut membutuhkan interaksi, pengalaman, dan pertimbangan yang belum mampu dilakukan AI secara utuh. Karena itu, jangan hanya fokus mempelajari tools terbaru. Luangkan waktu untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, problem solving, dan critical thinking. Semakin kuat kemampuan tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk berkembang sebagai UI/UX Designer di tengah perubahan industri. AI Membantu UI/UX Designer Berkembang, Bukan Menggantikan Perkembangan AI memang membawa banyak perubahan dalam dunia desain. Namun, perubahan itu bukan berarti profesi UI/UX Designer akan menghilang. Sebaliknya, teknologi ini membuka kesempatan baru bagi desainer untuk bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih fokus menyelesaikan masalah yang benar-benar penting bagi pengguna. Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Cara kamu menggunakannya akan menentukan hasil yang kamu dapatkan. Kalau kamu terus belajar, mau beradaptasi, dan tetap mengutamakan kebutuhan pengguna dalam setiap desain, kamu tidak perlu takut menghadapi perkembangan teknologi. Justru, kemampuan beradaptasi itulah yang akan membuatmu menjadi UI/UX Designer yang semakin relevan di masa depan.

UI Designer atau UX Researcher_ Mana yang Cocok Buat Kamu
UI/UX Design

UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu?

UI Designer atau UX Researcher? Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang mulai tertarik masuk ke dunia UI/UX. Banyak orang awalnya mengira semua pekerjaan di bidang ini sama saja karena sama-sama berhubungan dengan desain aplikasi atau website. Padahal, UI Designer dan UX Researcher punya fokus kerja yang cukup berbeda. Semakin cepat kamu memahami perbedaannya, semakin mudah juga menentukan jalur belajar yang paling sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Kebingungan ini sebenarnya sangat wajar, terutama bagi mahasiswa dan fresh graduate yang baru mulai mengenal dunia desain digital. Apalagi sekarang banyak konten di media sosial yang membahas UI/UX tanpa menjelaskan peran-peran yang ada di dalamnya. Akibatnya, banyak orang langsung belajar Figma tanpa benar-benar memahami posisi mana yang ingin mereka tekuni. Padahal, memahami tujuan belajar sejak awal bisa membuat proses belajarmu terasa jauh lebih terarah. UI Designer atau UX Researcher, Apa Bedanya? Meski sering berada dalam satu tim yang sama, UI Designer dan UX Researcher punya fokus pekerjaan yang berbeda. Mereka sama-sama menciptakan produk digital yang memberikan pengalaman nyaman bagi pengguna, tetapi cara kerja keduanya berbeda. Justru perbedaan inilah yang membuat keduanya saling melengkapi selama proses pengembangan produk berlangsung. Kalau diibaratkan sebuah tim film, UX Researcher mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan penonton. Setelah mengumpulkan berbagai temuan, UI Designer menerjemahkan informasi tersebut menjadi tampilan yang menarik sekaligus mudah dipahami pengguna. Karena itulah banyak perusahaan membutuhkan kedua peran ini agar produk yang mereka buat tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga benar-benar berguna bagi pengguna. Apa yang UI Designer Kerjakan? UI Designer atau User Interface Designer berfokus pada tampilan sebuah produk digital. Mereka merancang tampilan aplikasi atau website agar pengguna bisa menggunakannya dengan nyaman dan mudah. Mulai dari pemilihan warna, tipografi, ikon, tata letak, hingga konsistensi visual menjadi bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar membuat desain terlihat menarik, tetapi juga membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen dengan lebih mudah. Karena itu, UI Designer biasanya cukup dekat dengan berbagai tools desain seperti Figma. Namun pekerjaan mereka tidak berhenti pada membuat tampilan yang estetik saja. Mereka juga perlu memastikan setiap elemen visual membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan nyaman. Desain yang bagus tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan lebih mudah. Kalau kamu termasuk orang yang suka mengeksplorasi visual, memperhatikan detail, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih rapi dan menarik, jalur UI Designer mungkin terasa lebih cocok. Kalau kamu suka kreativitas dan desain visual, jalur ini bisa terasa menyenangkan karena kamu bisa langsung mengubah ide menjadi tampilan yang bisa dilihat dan digunakan banyak orang. Apa yang Dikerjakan UX Researcher? Berbeda dengan UI Designer, UX Researcher atau User Experience Researcher lebih fokus memahami pengguna. Mereka mencari tahu kebutuhan, kebiasaan, masalah, hingga alasan seseorang menggunakan sebuah produk digital. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk membuat keputusan yang lebih tepat saat mengembangkan produk. Karena itu, UX Researcher banyak menghabiskan waktu untuk melakukan riset dan mengumpulkan data. Seorang UX Researcher bisa melakukan wawancara pengguna, menyebarkan survei, mengamati perilaku pengguna, hingga menganalisis berbagai data yang mereka kumpulkan selama proses riset. Lewat proses tersebut, mereka membantu tim memahami kebutuhan pengguna, menemukan hambatan yang sering muncul, dan menentukan solusi yang paling tepat untuk mengatasinya. Hasil riset ini kemudian menjadi acuan bagi tim desain maupun tim pengembang. Kalau kamu lebih suka menganalisis perilaku manusia, mencari pola dari data, atau penasaran dengan alasan seseorang mengambil keputusan tertentu, jalur UX Researcher bisa menjadi pilihan yang menarik. Posisi ini biasanya cocok untuk orang yang senang melakukan observasi, riset, dan berpikir secara analitis. Baca juga: Tips Desain UX, Cara Mudah Ciptakan Pengalaman Pengguna yang Nyaman dan Optimal UI Designer atau UX Researcher, Siapa yang Lebih Sering Menggunakan Figma? Ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemula. Banyak orang mengira semua profesi dalam UI/UX harus mahir menggunakan Figma. Faktanya, UI Designer memang menggunakan Figma hampir setiap hari karena pekerjaan mereka berhubungan langsung dengan pembuatan tampilan visual dan prototype. Sementara itu, UX Researcher tidak selalu menghabiskan banyak waktu di Figma. Mereka lebih sering menggunakan tools riset, dokumen, survei, atau platform analisis untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dari pengguna. Karena itu, kalau alasan utamamu tertarik UI/UX adalah karena suka mendesain tampilan aplikasi, kemungkinan besar jalur UI Designer akan terasa lebih dekat dengan minatmu. UI Designer atau UX Researcher, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula? Sebenarnya tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak. Semuanya kembali pada hal yang paling membuatmu tertarik untuk dipelajari lebih dalam. Kalau kamu sering memperhatikan tampilan aplikasi, suka mengatur warna dan tata letak, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih menarik, UI Designer bisa menjadi pilihan yang tepat. Sebaliknya, kalau kamu lebih tertarik memahami perilaku pengguna dan mencari alasan di balik sebuah masalah, UX Researcher mungkin akan terasa lebih cocok. Daripada terlalu sibuk memikirkan mana yang lebih keren atau lebih populer, lebih baik fokus memahami karakter dan minatmu sendiri. Banyak profesional UI/UX juga memulai perjalanan mereka dengan mencoba berbagai hal sebelum akhirnya menemukan bidang yang paling sesuai. Jadi, tidak masalah kalau saat ini kamu masih belum yakin sepenuhnya. Apakah Harus Memilih Salah Satu? Tidak juga. Banyak orang mempelajari dasar UI dan UX secara bersamaan ketika pertama kali masuk ke dunia desain digital. Dengan memahami keduanya, kamu bisa melihat gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana sebuah produk dibuat. Pengetahuan ini juga membantu kamu menentukan bidang mana yang paling menarik untuk ditekuni dalam jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, biasanya kamu akan mulai menemukan bagian yang paling kamu nikmati. Ada yang akhirnya lebih fokus menjadi UI Designer karena suka membuat tampilan visual. Ada juga yang memilih menjadi UX Researcher karena lebih menikmati proses memahami pengguna dan memecahkan masalah. Apa pun pilihanmu, keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam dunia produk digital. Pada akhirnya, pertanyaan tentang UI Designer atau UX Researcher bukan soal mana yang lebih baik. Pertanyaan yang lebih penting adalah bidang mana yang paling sesuai dengan cara kamu berpikir dan belajar. Ketika kamu memilih jalur yang sesuai dengan minatmu, proses belajar biasanya terasa lebih menyenangkan dan lebih mudah dijalani. Jadi, kalau saat ini kamu masih bingung harus mulai dari mana, cobalah mengenal keduanya terlebih dahulu. Dari sana, kamu akan lebih mudah menemukan

Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna_ Kenali 5 Tandanya
UI/UX Design

Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna? Kenali 5 Tandanya

Desain bagus tapi membingungkan pengguna ternyata lebih sering terjadi daripada yang banyak orang kira. Mungkin kamu pernah membuka aplikasi atau website yang langsung menarik perhatian karena tampilannya modern, rapi, dan estetik. Namun setelah beberapa menit menggunakannya, kamu justru kesulitan menemukan menu tertentu atau bingung harus menekan tombol yang mana. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa tampilan yang menarik saja belum tentu membantu pengguna mencapai tujuan mereka dengan nyaman. Banyak orang mengira desain yang bagus hanya soal warna, ilustrasi, atau tampilan yang estetik. Padahal dalam dunia UI/UX, desain yang baik juga harus membantu pengguna mencapai tujuan mereka dengan mudah. Kalau pengguna harus berpikir terlalu lama hanya untuk menyelesaikan tugas sederhana, berarti desain tersebut belum membantu mereka menyelesaikan tugas dengan efektif. Karena itulah seorang UI/UX Designer tidak hanya fokus pada visual, tetapi juga pada pengalaman pengguna secara keseluruhan. Kenapa Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna Masih Sering Terjadi? Banyak desainer pemula terlalu fokus membuat tampilan yang menarik secara visual. Mereka menghabiskan banyak waktu memilih warna, font, ilustrasi, atau animasi agar desain terlihat modern dan profesional. Sayangnya, fokus yang terlalu besar pada estetika terkadang membuat desainer mengabaikan aspek kemudahan penggunaan. Akibatnya, desain memang terlihat keren saat presentasi, tetapi pengguna sering kesulitan saat benar-benar menggunakannya. Masalah ini sebenarnya cukup wajar, terutama bagi orang yang baru mulai belajar UI/UX. Sebagian besar orang pertama kali tertarik pada desain karena tampilannya yang menarik. Seiring bertambahnya pengalaman, mereka mulai memahami bahwa desain yang efektif harus menyeimbangkan fungsi dan visual secara seimbang. Karena itulah banyak desain berhasil menarik perhatian, tetapi tetap membuat pengguna kebingungan saat berinteraksi dengannya. Tanda Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna: Tombol Sulit Ditemukan Salah satu tanda paling umum adalah ketika pengguna kesulitan menemukan tombol yang sebenarnya penting. Banyak desainer mencoba membuat tampilan yang bersih dan minimalis, tetapi mereka sering membuat tombol utama kalah menonjol dibanding elemen lainnya. Akibatnya, pengguna harus mencari-cari terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan yang mereka inginkan. Situasi seperti ini sering membuat pengalaman menggunakan aplikasi terasa lebih rumit dari yang seharusnya. Bayangkan kamu sedang menggunakan aplikasi belanja dan ingin menyelesaikan pembayaran. Kalau tombol pembayaran tidak langsung terlihat, pengguna bisa merasa frustrasi dan bahkan membatalkan prosesnya. Padahal tujuan desain adalah membantu pengguna menyelesaikan tugas dengan cepat dan mudah. Karena itu, desainer perlu menonjolkan elemen penting agar pengguna langsung menemukannya sejak pertama kali membuka halaman. Baca juga: 4 Roadmap Belajar UI/UX Desain Terlalu Banyak Informasi dalam Satu Tampilan Keinginan untuk menampilkan banyak informasi sekaligus sering menjadi kesalahan berikutnya. Beberapa desainer berpikir bahwa semakin banyak informasi yang mereka tampilkan, semakin lengkap pula pengalaman yang akan dirasakan pengguna. Padahal terlalu banyak elemen dalam satu layar justru membuat pengguna kesulitan menentukan fokus mereka. Akibatnya, pengguna harus menghabiskan lebih banyak waktu hanya untuk memahami isi halaman. Ketika desainer menumpuk terlalu banyak teks, gambar, tombol, dan informasi dalam satu halaman, pengguna sering kesulitan menentukan fokus mereka. Mereka jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami isi halaman tersebut. Karena itu, desainer yang baik biasanya mengatur prioritas informasi dengan jelas agar pengguna lebih mudah memahami isi halaman. Semakin mudah pengguna memahami apa yang penting, semakin nyaman pula pengalaman yang mereka rasakan. Navigasi Terlihat Keren, Tapi Membingungkan Pengguna Banyak desainer ingin membuat navigasi yang unik agar terlihat berbeda dari aplikasi lain. Kreativitas memang penting, tetapi pengguna biasanya sudah terbiasa dengan pola tertentu saat menggunakan aplikasi atau website. Ketika sebuah navigasi terlalu berbeda dari kebiasaan tersebut, pengguna justru membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Pada akhirnya, pengguna bisa merasa bingung meskipun tampilan aplikasinya terlihat menarik. Misalnya, pengguna umumnya mengharapkan ikon pencarian berada di bagian atas atau ikon profil berada di area tertentu. Kalau posisi atau bentuknya terlalu berbeda, pengguna bisa merasa kebingungan. Karena itu, desainer tetap bisa berinovasi selama mereka tidak mengorbankan kemudahan penggunaan. Desain yang baik seharusnya membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen tanpa perlu menebak-nebak. Animasi yang Justru Mengganggu Pengalaman User Animasi memang bisa membuat sebuah aplikasi terlihat lebih hidup dan modern. Banyak aplikasi populer menggunakan animasi untuk memberikan kesan yang lebih interaktif kepada pengguna. Namun penggunaan animasi yang berlebihan justru bisa mengganggu pengalaman pengguna secara keseluruhan. Apalagi jika setiap perpindahan halaman membutuhkan waktu yang terlalu lama. Sebagian besar pengguna ingin menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. Mereka tidak ingin menunggu animasi yang sebenarnya tidak memberikan manfaat apa pun. Karena itu, desainer sebaiknya menggunakan animasi untuk mendukung pengalaman pengguna, bukan sekadar menambah hiasan visual. Ketika desainer menggunakan animasi secara tepat, pengguna bisa memahami alur aplikasi dengan lebih mudah. Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna Sering Membuat Orang Keluar dari Aplikasi Ketika pengguna merasa bingung, mereka biasanya tidak akan bertahan lama. Mereka biasanya langsung menutup aplikasi, mencari website lain, atau beralih ke layanan yang terasa lebih mudah digunakan. Inilah alasan kenapa desain bagus tapi membingungkan pengguna bisa menjadi masalah serius bagi sebuah produk digital. Bahkan masalah kecil sekalipun bisa berdampak besar terhadap pengalaman pengguna. Bahkan desain yang terlihat profesional sekalipun bisa kehilangan fungsinya jika pengguna tidak memahami cara menggunakannya. Dalam banyak kasus, pengguna tidak menyalahkan diri sendiri ketika merasa bingung. Mereka justru menganggap aplikasinya yang buruk. Karena itu, kamu perlu memikirkan pengalaman pengguna sejak awal, bukan setelah desain selesai dibuat. Apa yang Bisa Dipelajari Desainer Pemula? Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, jangan hanya fokus pada tampilan visual. Cobalah melihat desain dari sudut pandang pengguna yang akan menggunakannya setiap hari. Coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah pengguna bisa langsung tahu harus klik apa dan pergi ke mana tanpa kebingungan. Kalau pengguna bisa memahami alur aplikasi dengan cepat, biasanya mereka juga akan merasa lebih nyaman saat menggunakannya. Kamu juga bisa mulai membiasakan diri melakukan user testing sederhana sebelum menganggap sebuah desain sudah selesai. Dari sana, kamu bisa menemukan banyak masalah yang sebelumnya luput dari perhatian saat mendesain. Proses ini membantu kamu memahami bagaimana pengguna benar-benar berinteraksi dengan sebuah produk digital. Kemampuan seperti inilah yang membedakan desainer yang hanya fokus pada visual dengan desainer yang benar-benar memahami kebutuhan pengguna. Desain yang menarik memang bisa membuat pengguna tertarik pada pandangan pertama. Namun desain yang benar-benar berhasil adalah desain yang membantu pengguna mencapai tujuan mereka tanpa kebingungan. Itulah kenapa desainer tidak bisa hanya menilai desain dari tampilannya saja, tetapi juga perlu

UI/UX Design

6 Shortcuts Figma yang Wajib Dikuasai, Salah Satunya Adalah Ini

Kalau kamu yang suka  ngulik desain pakai Figma, ada beberapa shortcut penting yang bisa bikin workflow kamu makin ngebut. Karena percaya atau enggak, kadang skill desain nggak cuma soal estetika aja. Tapi tentang gimana kamu  kerja lebih efisien. Yuk, kenalan sama 6 shortcuts Figma yang wajib dikuasai. Shortcuts ini nggak cuma bantu kamu desain lebih cepat, tapi bisa bikin kamu kelihatan pro pas ngulik layout. 6 Shortcuts Figma yang Wajib Dikuasai 1. Remove Fill Remove Fill tuh shortcut yang sering banget kepake kalau kamu lagi ngulik shape dan mau langsung ngehapus warna isinya tanpa drama buka panel kanan. Bisa kepakai pas kamu cuma butuh outline atau mau bikin shape yang kelihatan lebih clean dan aesthetic. Menariknya kamu  tinggal pencet Alt+/ nggak pake ribet kan? 2. Remove Stroke Remove Stroke bikin kamu bisa ngilangin garis luar shape dalam hitungan detik tanpa harus nyari panel kanan yang ribet. Fitur ini kepake banget kalau kamu lagi pengen bikin desain yang clean, flat, dan nggak mau ada garis yang ngerusak vibes. Kalau kamu lagi lupa shortcut-nya, tinggal pencet Shift+/ terus fiturnya langsung bisa dipakai deh. Intinya, shortcut ini bisa bikin desain lebih rapi, lebih aesthetic, dan proses editnya ringan tanpa drama. 3. Fill and Stroke Shortcut ini ibarat kombo sakti buat ngatur fill dan stroke sekaligus. Jadi kamu nggak perlu klik satu-satu di panel, cukup pake shortcut ini dan bentuk langsung punya isi dan garis dengan cepat. Kamu juga bisa langsung pencet Shift + X buat tukar posisi fill dan stroke biar makin cepat. Fill and stroke pastinya jadi bagian dari shortcut Figma yang wajib dikuasai. Hasilnya ya biar alur kerja kamu makin cepat dan nggak banyak buang waktu. 4. Outline Stroke Outline Stroke bantu kamu ngubah stroke jadi bentuk solid yang bisa diedit bebas. Fitur ini kepake banget pas kamu bikin ikon atau ilustrasi yang butuh detail presisi. Pas kamu pake, garis luar yang tadinya cuma outline langsung berubah jadi objek vector. Udah gitu vectornya bisa kamu edit sesuka hati. Kamu juga bisa pakai Shift + Ctrl + O biar lebih cepat. Shortcut ini bikin hasil desain kamu kelihatan jauh lebih rapi dan profesional. 5. Flatten Selection Flatten Selection ibarat penyelamat kalau file kamu udah kebanyakan grup atau layer yang numpuk. Shortcut ini bisa kamu pakai buat ngerapihin semua elemen jadi satu kesatuan. Outputnya jadi lebih simple dan gampang di-manage. Kamu juga bisa pakai Ctrl + E biar prosesnya makin cepat. 6. Join Selection Join Selection itu salah satu shortcuts Figma yang wajib dikuasai. Apalagi kalau kamu sering ngedit bentuk dengan banyak anchor point. Fitur ini ngebantu kamu nyambungin titik-titik biar shape lebih rapi dan mulus. Biasa banget kamu pakai buat bikin logo, bentuk custom, atau ilustrasi. Simpel tapi impactful,  dan kamu bisa langsung manggil fitur ini pakai CTRL + J. Akhirnya pembahasan kita kelar juga, dan sekarang kamu udah siap ngegas di Figma dengan workflow yang lebih cepat, rapi, dan kece. Shortcut-shortcut ini bakal jadi senjata andalan kamu buat ngedesain tanpa ribet lagi deh. 

UI/UX Design

4 Roadmap Belajar UI/UX Desain

Roadmap belajar UI/UX desain jadi panduan penting buat kamu yang baru mau mulai terjun ke dunia desain digital. Dengan rute belajar yang jelas, kamu bisa berkembang lebih tanpa takut kesasar. Roadmap ini bakal bantu kamu memahami langkah awal, tools penting, dasar-dasar UI, sampai gimana kamu bisa konsisten latihan biar skill makin naik level. 4 Roadmap Belajar UI/UX Desain 1. Kuasai Satu Software Desain Dulu Roadmap belajar UI/UX desain selalu dimulai dari memilih dan menguasai satu software desain. Kamu bisa pilih Figma, Sketch, atau Adobe XD, nggak harus menguasai semua sekaligus. Figma biasanya jadi favorit pemula karena gratis dan gampang diakses. Kalau kamu pengguna Mac yang suka tampilan simpel, Sketch bisa jadi pilihan nyaman. Nah, kalau Adobe XD cocok buat yang udah familiar sama produk-produk Adobe. Fokus aja bikn frame, layout, sampai prototyping sederhana. Kalau kamu udah ngerti satu software sampai lancar, kamu punya pondasi kokoh sebelum belajar hal-hal yang lebih kompleks. 2. Pelajari Tools-Tools Penting di Dalamnya Setelah nyaman sama softwarenya, roadmap belajar UI/UX desain lanjut ke tahap eksplor tools-tools inti yang bakal kamu pakai setiap hari. Misalnya di Figma, kamu perlu ngerti Auto Layout, Components, Styles, sampai fitur Prototyping. Tools-tools ini yang bikin workflow kamu makin cepet dan desain kamu makin konsisten. Nggak ada cara cepet selain latihan: klik, drag, ubah properti dan eksperimen sana-sini. Dunia UI/UX itu emang arena trial-and-error, dan dari eksplor kecil-kecilan gitu,  kamu bakal paham cara bikin layout yang rapi dan profesional. 3. Kuasai Basic UI Design Roadmap belajar UI/UX desain bakal naik level banget ketika kamu mulai mendalami basic UI design. Di sini kamu belajar soal warna, tipografi, spacing, grid system, hierarchy, sampai desain sistem. Ini ilmu yang ngebentuk “sense of design” kamu. Kamu bakal tahu kenapa tombol harus kontras, kenapa teks nggak boleh terlalu kecil, dan kenapa layout yang rapi bikin user betah. Cara belajar tergampang? Lihat aplikasi top kayak: Spotify, Tokopedia, Gojek, atau Instagram terus analisis tampilannya. Dari situ kamu bakal ngerti standar industri dan dapet insight buat style desain kamu sendiri. 4. Konsisten Latihan dan Bangun Jam Terbang Tahap terakhir di roadmap belajar UI/UX desain ini sebenarnya yang paling krusial: konsisten latihan. Skill desain nggak tumbuh dari teori doang, tapi dari seberapa sering kamu praktek. Mulai aja dari mini project kecil, redesign aplikasi populer sampai bikin landing page. Semakin sering latihan, semakin tajam insting desain kamu. Upload hasil karya ke Instagram, Dribbble, sampai Behance juga bisa bantu kamu dapet feedback yang bermanfaat. Nggak perlu insecure kalau hasil awalnya belum perfect, karena semua desainer pernah mulai dari nol. Akhirnya, perjalanan belajar UI/UX itu bukan sprint, tapi lebih kayak marathon yang seru. Selama kamu terus maju, belajar hal baru, dan berani eksplor, skill kamu bakal berkembang jauh lebih cepat dari yang kamu kira. Nikmati prosesnya, jangan terlalu keras sama diri sendiri, dan terus buka ruang buat belajar.

UI/UX Design

4 Panduan Membuat Portofolio UI/UX Pemula

Buat kamu yang baru masuk ke dunia desain digital, punya portofolio UI/UX tuh persoalan yang penting banget. Portofolio tuh bukan sekedar tempat buat naruh hasil desain, tapi juga nunjukin cara kamu mikir, nyelesain masalah sampai nyiptain solusi desain yang user-friendly.  Tapi tenang, kamu nggak harus langsung pro buat bisa mulai. Fokus utamanya bukan perfect, tapi progress. Nah, di artikel ini, kita bahas bareng yuk 4 panduan membuat portofolio UI/UX pemula yang gampang diterapin. Cocok banget buat kamu yang masih pemula tapi tetep pengen kelihatan elegan. Panduan Membuat Portofolio UI/UX Pemula 1. Figma: Rumah Utama Buat Semua Desainmu Figma tuh ibarat rumah buat desainer UI/UX. Segala proses desain biasanya dilakukan pakai platform ini, muladi rari bikin user flow sampai prototyping interaktif. Nah, buat pemula platform satu ini tuh cukup ramah, karena punya tampilan yang simple tapi gampang dipahami.  Kamu bisa tuh eksplorasi pakai Figma misal bikin wireframe polos biar nggak overwhelmed sama warna halaman atau visual. Selain itu, kamu juga bisa manfaatin fitur auto layout biar desain rapi tanpa ribet. Kalau pingin lebih cepat lagi, kamu bisa  pakai Plugin AI Figma yang bisa bantu cepetin workflow. Intinya buat punya portofolio kamu jangan takut nyoba, jangan kebanyakan overthinking kalau desain masih kelihatan jelek di awal-awal. Karena semua desainer professional  pernah ngalamin fase pemula, tapi mereka nggak berhenti coba. Ikuti aja prosesnya, dan jangan ragu nunjukin progres kamu di portofolio.  2. Unblast: Sumber Mockup Gratis Biar Portofolio Mu Makin Estetik Desain UI tanpa mockup itu ibarat mie instan tanpa telur, masih enak, tapi kurang wow. Makanya mockup penting banget buat bikin portofolio kamu keliatan lebih hidup dan profesional. Unblast jadi salah satu tempat terbaik buat kamu nyari mockup gratis dan berkualitas. Di situ kamu bisa nemu mockup smartphone, laptop, packaging,  browser frame, dan segala jenis elemen visual yang bikin hasil desain kamu tampil lebih estetik.  Pilih mockup yang clean dan minimalis biar desainmu tetap jadi fokus utama. Usahain juga tone-nya selaras sama style desainmu, kayak warna, vibe, dan nuansa visual. Dengan mockup yang tepat, portofolio kamu bakal keliatan jauh lebih elegan meski kamu masih pemula. 3. Google AI Studio: Bantuin Riset Kilat Tanpa Bikin Overthinking UI/UX nggak cuma soal warna yang aesthetic, tapi juga soal riset. Dan kadang riset bisa super melelahkan kalau kamu masih pemula. Nah, Google AI Studio ada sebagai penyelamat buat kamu yang butuh insight cepat tapi nggak muter-muter. Kamu pakai aja Google AI Studio buat nemuin user persona, ngulik masalah user, sampai rapihin data riset biar gampang dipahami. Kamu tinggal masukin prompt sesuai kebutuhan,  dan jadi deh.  Ini bakal bantu kamu banget waktu bikin case study di portofolio, karena recruiter biasanya lebih tertarik sama cara kamu ngambil keputusan dan mikir sebagai desainer. Bukan cuma tampilan akhirnya aja. Kamu jadi bisa bikin riset yang rapi, masuk akal, tapi tetap mudah dipahami dengan Google AI Studio. 4. ChatGPT: Bestie Buat Nulis Case Study yang Mengalir dan Nggak Kaku Desain yang bagus itu penting, tapi storytelling dalam case study juga punya peran krusial. Sayangnya, nggak semua orang suka nulis. Makanya ChatGPT bisa jadi sahabat terbaik kamu buat nyusun portofolio UI/UX yang lebih profesional.  Kamu bisa minta ChatGPT buat merapikan bahasa case study, bikin alurnya lebih manusiawi, atau ngejelasin proses desainmu biar lebih jelas dan masuk akal. Misalnya kalau kamu bingung harus mulai dari mana, kamu tinggal paste tulisan mentahmu dan minta ChatGPT memperhalusnya. Kalau kehabisan ide, ChatGPT Juga bisa bantu brainstorming loh. Intinya portofolio UI/UX pemula itu nggak serumit yang dibayangin. Kamu nggak perlu langsung menjadi profesional di awal. Mulai aja dulu dengan tools dan platform yang paling mudah dipakai. Berprogress, latihan maka kamu selangkah lebih maju di dunia desain setiap harinya.

UI/UX Design

6 Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba

Plugin AI Figma itu udah kayak lifesaver buat para desainer yang tiap hari ngulik Figma. Kamu pasti tau rasanya: ngatur layout yang rempong, bikin komponen satu-satu, ngerjain wireframe sampai mata merah, sampai revisi berkali-kali.   Capek, kan? Nah, udah bukan zamannya ngedesain serba manual, karena udah ada AI yang bisa ngebut banget bantuin workflow kamu jadi lebih cepat, rapi, dan estetik parah. Plus, cara pakenya super gampang, cocok buat kamu yang pengen hasil kece tanpa ribet. So, here you go,  ada 6 rekomendasi Plugin AI Figma yang  literally wajib kamu coba. Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba 1. Clueify Clueify tuh kayak asisten pribadi yang selalu ngerti kamu. Plugin satu ini bisa ngebantu kamu nyari referensi visual, style, sampai elemen desain yang relevan cuma pakai satu kata kunci. Jadi kalau kamu lagi stuck atau kehabisan inspirasi, tinggal masukin keyword dan Clueify bakal nyediain rekomendasi desain yang super relevan.  2. Flowkit Flowkit itu ibarat shortcut suci buat kamu yang sering ngegarap user flow, wireframe, atau prototype. Plugin ini ngebantu kamu bikin diagram, arrow, sampai komponen navigasi super cepat. Walaupun Flowkit bukan murni AI dari awal, update barunya udah makin smart karena AI-nya bisa bantu nyesuaiin struktur flow sesuai pola desain yang kamu bikin.  3. Automator Kalau kamu pernah capek karena harus ngulang-ngulang tugas kecil kayak rename layer, duplikat komponen, sampai generate state maka Plugin ini sangat bisa bantu kamu. Automator tuh kayak cheat-code buat ngejalanin banyak tugas otomatis cuma dengan satu klik atau satu perintah. Bahkan kamu bisa bikin resep sendiri buat action tertentu, biar kerjaan repetitif langsung kelar tanpa drama. Cocok banget buat kamu yang punya project gede dengan banyak layer atau file yang berantakan. Hasil akhirnya? Workflow lebih clean, cepat, dan zero keribetan. 4. Relume Relume tuh jagonya bikin desain website super cepat tapi tetep high-quality. Plugin AI Figma ini punya ratusan komponen dan blok desain yang siap di-generate otomatis sesuai kebutuhan. Kamu tinggal masukin prompt singkat, terus Relume bakal nyediain layout full yang udah estetik dan well-structured. Cocok banget buat desainer Webflow atau UI designer yang dikejar deadline tapi pengen hasil tetap rapi dan modern. 5. Pixlore Kalau kamu main di area visual, branding, atau ilustrasi, Pixlore bakal jadi plugin favorit baru kamu. Plugin AI Figma ini bisa  nge-generate icon, ilustrasi, dan elemen dekoratif langsung dari prompt. Menariknyawebsite apa pun bisa langsung di generate ke file Figma yang bisa kamu edit. Kamu tinggal paste link website terkait, langsung deh bisa di-custom. 6. Magnestics Magnestics adalah Plugin AI Figma buat kamu yang obsess sama layout rapi dan alignment yang satisfyingly clean. Plugin satu ini juga nyediain koleksi icon yang dibikin sama AI. Kamu tinggal pilih aja sesuai selera dan langsung tempel. Jadi nggak perlu lagi ribet nyari icon satu per satu lagi. Nah, habis kenal sama 6 Plugin AI Figma ini, kamu bisa kerja lebih cepat, lebih rapi, dan pastinya lebih kreatif. Tinggal pilih yang paling cocok sama workflow kamu, dan habis itu itu desain kamu bakal naik level tanpa effort berlebihan.

UI/UX Design

Ini Dia 4 Teori Warna UI/UX yang Bikin Desainmu Naik Level

Kalau kamu baru masuk dunia desain digital, pasti sadar satu hal: warna itu bukan cuma elemen pemanis. Dalam teori warna UI/UX, warna punya peran besar buat naikin mood, memperjelas navigasi, sampai mengarahkan user biar nggak nyasar. Desainer yang jago warna biasanya juga jago bikin user betah. Nah, biar desainmu makin kece dan keliatan pro, ini dia 4 teori warna yang wajib kamu kuasai. Santai aja, penjelasannya  nggak ribet kok,  cocok banget buat kamu yang masih baru di UI/UX. 4 Teori Warna UI/UX yang Bikin Desainmu Naik Level 1. Trik 60–30–10: Formula Simpel yang Bikin UI Auto Aesthetic Kalau UI kamu sering terasa “ramai”, “berisik”, atau “nggak balance”, kemungkinan komposisi warnanya belum pas. Dalam teori warna UI/UX, salah satu rumus paling populer buat atur komposisi adalah 60–30–10 rule. Ada 3 hal yang perlu kamu perhatiin: Contohnya, kamu pakai warna abu muda sebagai 60%, biru sebagai 30%, dan kuning sebagai aksen 10%. Dampaknya? UI kelihatan lebih  rapi, modern, dan nyaman dilihat. Rumus ini ngebantu kamu supaya warna nggak “berantem” satu sama lain. Ini basic banget tapi powerful. 2. Warna Khusus untuk User Feedback: Biar User Nggak Bingung Harus Ngapain Nah, ini penting banget! Kalau ngomongin teori warna UI/UX, warna bukan cuma buat cantik, tapi buat komunikasi. Jadi user perlu tahu kapan mereka berhasil, salah, atau sedang diproses. Di sinilah warna feedback punya peran penting. Biar ada gambaran kamu bisa simak 4 contoh warna yang sering banget dipakai: Contoh penerapan: tombol submit berubah hijau setelah berhasil, atau form yang kosong dikasih border merah. Ini bikin user lebih ngerti apa yang terjadi tanpa perlu baca teks panjang. Selain itu, jangan lupa pakai warna feedback secara konsisten. Jangan hari ini error warna merah, besok ganti ungu. User bisa bingung dan itu ngurangin trust. Ketelitian kecil kayak gini bikin desain kamu kelihatan professional lho! 3. Color Hierarchy: Biar User Fokus ke Hal yang Seharusnya Color hierarchy tuh cara ngatur warna biar kegunaan tiap visualnya jelas: mana yang penting, mana yang pendukung, mana yang cuma pelengkap tampilan. Kamu bisa lihat 2 permisalan berikut: Prinsipnya:  warna yang lebih kuat itu punya prioritas lebih tinggi. Kalau sampai user bingung mau klik mana dulu, berarti hierarki warna desainmu masih kurang. Misalnya: semua tombol warnanya sama, atau heading dan body text warnanya mirip. Jangan kaya gitu ya, harus ada hierarki. 4. Dark Mode: Tren UI Kekinian yang Nggak Sekadar Estetik Siapa yang nggak suka dark mode? Selain terlihat futuristik, dark mode juga bikin mata user lebih nyaman. Di dark mode, kamu nggak bisa cuma membalik warna jadi gelap aja. Ada beberapa prinsip yang perlu kamu perhatikan: Intinya dark mode bukan sekedar aesthetic choice, tapi juga seni ningkatin pengalaman pengguna biar lebih baik. Karena itu, warna emang punya kekuatan besar dalam dunia desain. Nah, dengan memahami teori warna UI/UX seperti 60–30–10, warna feedback, color hierarchy, dan dark mode, kamu udah selangkah lebih dekat menuju desain yang profesional, clean, dan nyaman dipakai user. Bahkan kalau kamu masih pemula, menguasai empat teori ini aja udah bisa bikin desainmu naik level dan terlihat jauh lebih matang. Selamat bereksperimen!

UI/UX Design

Mengenal Apa Itu UI/UX Design yang Bisa Bikin Produk Digital Jadi Keren

Pernah dengar istilah UI/UX Design? Dua hal ini penting banget dalam dunia digital, apalagi kalau kamu mau bikin aplikasi atau website sendiri. Tapi, banyak orang yang masih bingung apa sih bedanya UI dan UX, mana yang lebih penting, atau apakah cukup fokus ke salah satunya saja. Nah, supaya kamu nggak bingung, yuk ikutin pembahasan aku seputar topik ini. Apa Itu UI Design? UI atau User Interface adalah bagian dari sebuah produk digital yang bisa kamu lihat dan klik secara langsung. Semua hal seperti tombol, warna, ikon, tulisan, gambar, animasi, dan tata letak yang muncul di layar, itu semua hasil dari UI/UX Design. Peran UI Buat Bikin Produk Digital Tugas UI bukan cuma bikin tampilan jadi cantik dan menarik mata, tapi juga memastikan pengguna bisa memakainya dengan mudah tanpa bingung. Kalau UI-nya bagus, orang yang memakai aplikasi atau website kamu akan merasa nyaman dan betah berlama-lama. UI berperan sebagai jembatan antara pengguna dan produk, sehingga interaksi bisa terjadi dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Ini adalah langkah awal penting dalam menciptakan UI/UX Design yang sukses. Apa Itu UX Design? Sementara itu, UX atau User Experience adalah bagian dari UI/UX Design yang berhubungan dengan pengalaman pengguna saat memakai produk tersebut. UX fokusnya bikin pengguna nyaman saat pakai website atau aplikasi tertentu. UX mencangkup gimana cara pengguna nemuin fitur yang dicari, jelas apa enggak langkah-langkahnya. Terus juga mastiin apa pengguna ngerasa puas apa nggak sama tuh produk digital. Kenapa UX Itu Penting UX nggak melulu seputar tampilan , tapi juga tentang bagaimana sebuah produk bisa menyenangkan dan memudahkan hidup penggunanya dari awal sampai akhir. Produk dengan UX yang baik akan membuat pengguna merasa nyaman, tidak bingung, dan ingin kembali menggunakannya lagi. Itulah sebabnya, di dunia UI/UX Design kamu nggak boleh mengabaikan UX. Perbedaan UI dan UX dalam UI/UX Design Meski sekilas kedengaran mirip, UI dan UX punya peran yang berbeda dalam proses UI/UX Design. UI lebih fokus ke tampilan agar produk terlihat menarik dan enak dipandang, sedangkan UX berfokus pada kenyamanan dan kepuasan pengguna saat menggunakan produk itu. Perbedaan dalam Proses dan Komponen Proses pembuatannya juga berbeda. Kamu bisa mulai UX dengan riset kebutuhan pengguna, terus lanjut bikin alur penggunaan, struktur file, sampai prototipe. Nah kalau UI baru bekerja setelahnya buat mempercantik tampilan dengan warna, gambar, dan elemen visual lainnya. Dalam dunia UI/UX komponen yang bisa kamu pakai juga berbeda. Biasanya UI nanganin seputar tombol, tipografi, sampai warna. Beda sama UX yang lebih ngurus navigasi, konten, alur interaksi, sampai strategi branding. Semua elemen ini saling melengkapi untuk menghasilkan UI/UX Design yang menarik dan fungsional. Perbedaan Tools dan Skill Kamu udah tahu kan, kalau alat yang dipakai desainer UI/UX berbeda? Seorang desainer UI biasanya memakai alat desain seperti Adobe Illustrator atau Photoshop untuk membuat tampilan yang detail. Di sisi lain, desainer UX lebih sering menggunakan alat seperti Figma atau Sketch untuk membuat prototype dan menguji pengalaman pengguna. Nggak cuma itu, skill yang dibutuhin juga beda. Kalau kamu mau jadi desainer UI, berarti kamu butuh kreatifiitas dan branding yang kuat di dunia desain. Nah, kalau mau fokus ke UX, kamu harus punya skill riset, analisis, dan pemecahan masalah agar produk yang didesain gampang digunakan. Dari penjelasan tadi, bisa disimpulkan bahwa UI/UX Design tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling melengkapi. UI bisa bantu bikin produk digital kamu terlihat menarik secara visual. Kalau UX bisa bantuin kamu ngebuat produk digital yang nyaman dipakai. Intinya kalau cuma fokus ke salah satu aja, hasilnya bakal jauh dari kata maksimal. Nggak lucu kan kalau tampilan aplikasi kamu super bagus, tapi pengguna kebingungan cara pakainya? Sebaliknya, nggak baik juga kalau aplikasi yang kamu bikin super mudah dipahami tapi tampilannya monoton dan bosenin. Jadi kamu harus pastiin UI/UX secara bersamaan. Kalau udah maksimalin dua sisi ini, output produk digital kamu bakal memenuhi UI/UX deh.

UI/UX Design

Apa Itu Figma? Yuk, Intip Fitur Figma Hingga Cara Mendaftarnya

Apa Itu Figma? Apa itu Figma? Jadi Figma adalah alat atau aplikasi buat desain, spesifiknya aplikasi buat desain website. Figma populer banget dipakai buat memaksimalkan UI/UX design. Tapi jangan salah, gak cuma desainer profesional saja yang bisa pakai Figma, kamu yang masih pemula juga bisa belajar dan menggunakannya lho. Biar lebih paham, Figma itu basisnya online (cloud), jadi nggak mewajibkan penggunanya install software yang berat-berat. Kamu cukup buka browser, login, dan langsung bisa desain. Gak harus pakai laptop, pakai tablet juga bisa. Satu tambahan lagi, Figma punya fitur kolaborasi, jadi memudahkan kamu yang suka kerja sama tim dalam satu desain. Apa Aja Sih Fitur Figma? 1. Prototyping Fitur Figma yang pertama adalah prototyping. Kamu bisa mencoba desain yang sudah dibuat seakan-akan jadi aplikasi beneran. Misal, kalau kamu klik tombol “login”, nantinya kamu bisa atur biar langsung pindah ke halaman berikutnya. Istilah gampangnya, kami bisa lihat alur aplikasinya, dan menguji dulu sebelum beneran dibuat dalam bentuk kode. Hal kaya gini bisa memudahkan developer memahami desain kamu. 2. Design Tool Fitur Figma selanjutnya namanyanya design tool. Fitur satu ini disebut fitur utama buat bantu kamu bikin elemen desain. Adanya design tool ini bisa bantu kamu bikin kotak, lingkaran, sampai teks sesuai kebutuhan. Selain itu, kamu juga bisa tambahin warna, ikon, sampai komponen yang bisa membuat desainmu tampak hidup. Ditambah lagi ada fitur auto layout yang bisa bantu rapiin elemen ini agar responsif, tanpa mengatur manual satu per satu. 3. Plugin Library Fitur Figma yang ke-3 namanya plugin library. Fitur satu ini bisa kamu install gratis buat nambahin fungsi aplikasi. Contoh ada plugin yang bisa bantu kamu ambil stok gambar yang berkualitas, nyari ikon lebih cepat, sampai plugin yang bantu buat diagram otomatis. Nah, kebayang kan seberguna apa plugin, pekerjaan desain kamu pun bisa jadi efisien dah. 4. Community Files Fitur Figma yang terakhir adalah community files. Pada fitur ini kamu bakal mudah banget nyari berbagai template dan file yang sudah didesain orang lain. Kamu bisa dengan mudah download file tersebut dan mengedit sesuai selera. Community files ini sangat bermanfaat bagi pemula, apalagi yang mau belajar desain tapi bingung mau mulai dari mana. Dengan fitur satu ini, kamu bisa lebih menghemat waktu sekaligus lebih mudah dapat inspirasi dari karya-karya orang lain. Figma Bisa Digunakan Buat Apa Aja? Jawabannya banyak, mulai dari desain tampilan aplikasi website, prototype interaktif, sampai sketsa awal kaya wireframe. Selain itu, kamu juga bisa manfaatin Figma buat bikin konten visual buat medsos, atau sekedar presentasi. Menariknya lagi, kamu bisa kerjain proyek bareng teman secara real time dalam satu file yang sama. 6 Langkah Daftar Figma 1. Buka situs resmi Figma Langkah daftar Figma yang paling dasar adalah membuka situs resminya di www.figma.com. Nah kamu bisa tuh langsung mulai proses pendaftaran dengan mudah. 2. Klik Sign Up Langkah daftar Figma selanjutnya adalah klik tombol “sign up” atau “get started”, biasanya ada di halaman awal pembuatan akun. 3. Pakai Email Langkah daftar Figma selanjutnya adalah input alamat email kamu. Kalau pengen lebih cepat, bisa langsung login pakai akun Google yang kamu punya. 4. Masuk Dashboard Kalau sudah berhasil login, kamu akan diarahkan ke dashboard utama Figma. Nah, dashboard itu bakal jadi tempat utama proyek desain kamu disimpan. 5. Buat Desain Baru Sebenarnya kalau sudah masuk tahap ini, kamu tinggal mulai desain aja. Lihat dashboard dan cari opsi “New Design File”, otomatis kamu bakal dibawa ke workspace kosong buat bikin desain. 6. Eksplorasi Langkah daftar Figma yang terakhir tinggal eksplorasi aja semua fitur yang tersedia. Kalau bingung tinggal pakai template yang sudah ada. Kalau udah selesai desain, kamu punya banyak opsi buat ekspor ke format PNG, JPG, SVG, sampai PDF. Intinya, pilih sesuai kebutuhan. Itu dia pengenalan singkat dasar-dasar Figma buat pemula. Sekarang kamu sudah mulai paham kan apa itu figma, fungsi sampai cara mendaftarnya?

Scroll to Top