UI/UX Design

Sering Pakai Figma? 5 Fitur Ini Bisa Bikin Kerjamu Lebih Cepat
UI/UX Design

Sering Pakai Figma? 5 Fitur Ini Bisa Bikin Kerjamu Lebih Cepat

Kalau hampir setiap hari kamu membuka Figma, mungkin kamu sudah terbiasa dengan frame, component, auto layout, dan berbagai tools dasar lainnya. Tapi, fitur Figma ternyata cukup banyak dan beberapa di antaranya sering terlewat karena letaknya nggak selalu terlihat jelas. Padahal, beberapa fitur tersebut bisa memangkas pekerjaan yang biasanya kamu lakukan berulang kali. Coba bayangkan kamu harus mengganti nama puluhan layer, mengubah banyak komponen sekaligus, atau membuat desain yang punya beberapa kondisi berbeda. Kalau kamu mengerjakannya satu per satu, waktunya tentu lebih lama. Nah, daripada terus melakukan pekerjaan yang sama secara manual, coba kenalan dengan beberapa fitur Figma berikut. 1. Rename Layers, Fitur Figma untuk Ganti Banyak Nama Sekaligus Pernah punya file Figma dengan puluhan layer bernama “Frame 1”, “Frame 2”, atau “Rectangle 34”? Kalau iya, kamu pasti tahu betapa malasnya mengganti nama semuanya satu per satu. Figma punya fitur Rename Layers yang bisa membantu kamu mengganti nama banyak layer sekaligus. Kamu cukup memilih beberapa layer, membuka menu Rename, lalu menentukan pola nama yang kamu inginkan. Fitur ini juga bisa membantu kamu membuat nama layer lebih rapi. Misalnya, kamu ingin mengubah nama beberapa ikon menjadi Icon_1, Icon_2, dan seterusnya. Kamu bahkan bisa menambahkan prefix atau mengganti bagian tertentu dari nama yang sudah ada. Kalau file desainmu mulai penuh, fitur sederhana seperti ini bisa menghemat cukup banyak waktu. 2. Component Properties Biar Nggak Bolak-Balik Edit Layer Kalau kamu sering menggunakan component, mungkin kamu pernah mengalami situasi ketika harus membuka banyak layer hanya untuk mengubah satu bagian kecil. Figma punya Component Properties yang memungkinkan kamu menentukan bagian mana dari sebuah component yang bisa diubah langsung dari panel Properties. Contohnya, kamu punya button component dengan ikon di dalamnya. Dengan boolean property, kamu bisa membuat ikon tersebut muncul atau disembunyikan tanpa harus masuk dan mengedit component secara manual. Kamu juga bisa menggunakan text property untuk mengganti tulisan atau instance swap untuk menukar komponen tertentu. Jadi, satu component bisa punya beberapa kebutuhan tanpa membuat kamu bekerja dari awal lagi. 3. Variables untuk Mengatur Banyak Nilai Sekaligus Pernah mengerjakan desain yang punya light mode dan dark mode? Kalau kamu mengubah warna satu per satu, pekerjaan bisa cepat terasa melelahkan. Nah, Variables bisa membantu menyimpan nilai seperti warna, angka, teks, dan nilai boolean yang kemudian bisa kamu gunakan kembali di berbagai bagian desain. Fitur ini juga berguna ketika kamu ingin membuat desain yang punya beberapa kondisi. Misalnya, kamu membuat tampilan aplikasi untuk light mode dan dark mode. Dengan variable modes, kamu bisa menyimpan nilai berbeda untuk setiap kondisi sehingga kamu nggak perlu membuat banyak frame hanya untuk menampilkan perubahan warna. Baca juga: 6 Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba 4. Suggest Auto Layout untuk Bantu Menata Layout Auto layout mungkin sudah sering kamu dengar. Fitur ini membantu elemen dalam sebuah frame menyesuaikan posisi, jarak, dan ukurannya ketika isi desain berubah. Figma juga menyediakan Suggest auto layout, yang bisa mencoba mengenali susunan objek dalam sebuah frame lalu menambahkan auto layout sesuai struktur yang ditemukan. Fitur ini cocok ketika kamu punya desain yang sudah jadi tetapi belum menggunakan auto layout. Daripada mengatur semuanya dari awal, kamu bisa mencoba Suggest auto layout sebagai titik awal. Setelah itu, kamu tetap perlu mengecek hasilnya dan menyesuaikan bagian yang belum sesuai. Lumayan buat menghemat waktu, terutama saat mengerjakan desain dengan banyak elemen. 5. Dev Mode untuk Cek Desain Sebelum Masuk Development Kalau kamu pernah bekerja bareng developer, kamu mungkin tahu bahwa proses handoff desain bisa cukup merepotkan. Developer perlu melihat ukuran, jarak, warna, aset, hingga detail komponen sebelum mulai mengerjakan kode. Figma menyediakan Dev Mode untuk membantu proses tersebut. Melalui Dev Mode, developer bisa melihat detail desain, memeriksa properti dan nilai yang digunakan, melihat variable, mengunduh aset, sampai mendapatkan potongan kode tertentu. Kamu sebagai desainer juga bisa menandai desain yang sudah siap masuk tahap pengembangan. Jadi, sebelum mengirim file ke tim developer, kamu bisa memastikan bagian yang mereka butuhkan sudah lebih mudah ditemukan. Coba Fitur Figma yang Selama Ini Kamu Lewatkan Lima fitur tadi memang bukan semuanya fitur yang baru muncul di Figma. Justru itu yang menarik. Kamu mungkin sudah lama menggunakan Figma, tetapi masih mengerjakan beberapa hal secara manual karena belum pernah mencoba fitur yang bisa membantu mempercepatnya. Coba pilih satu fitur yang paling sesuai dengan pekerjaanmu. Kalau file-mu sering berantakan, mulai dari Rename Layers. Banyak membuat component? Coba pelajari Component Properties. Untuk desain dengan beberapa kondisi, kamu bisa mengeksplorasi Variables. Nggak perlu dipelajari semuanya dalam satu hari. Pilih yang paling sering kamu butuhkan, lalu lihat sendiri apakah workflow-mu terasa lebih cepat.

Jangan Asal Bikin UI! Kenali Design System Dulu
UI/UX Design

Jangan Asal Bikin UI! Kenali Design System Dulu

Kalau kamu baru belajar UI/UX, mungkin semangatmu langsung mengarah ke Figma. Kamu mulai membuat tombol, kartu, ikon, sampai halaman aplikasi karena ingin melihat hasil desain secepat mungkin. Cara belajar seperti ini memang tidak salah, tetapi banyak pemula sering melewatkan satu hal penting, yaitu design system. Akibatnya, desain yang awalnya terlihat rapi justru berubah berantakan ketika jumlah halamannya semakin banyak atau saat harus mengerjakan proyek bersama orang lain. Padahal, banyak perusahaan justru mengandalkan sistem desain untuk menjaga kualitas produk digital mereka. Mereka tidak membuat setiap halaman dari nol. Mereka menyusun komponen yang sudah memiliki aturan jelas, lalu menggunakannya secara berulang agar proses desain menjadi lebih cepat dan konsisten. Nah, kalau kamu ingin berkembang sebagai UI/UX Designer, memahami design system sejak awal akan memberikan keuntungan yang besar. Apa Itu Design System? Sederhananya, design system adalah kumpulan aturan, komponen, dan panduan yang membantu desainer membuat tampilan antarmuka secara konsisten. Isinya bukan hanya kumpulan tombol atau warna, tetapi juga mencakup penggunaan tipografi, ikon, jarak antar elemen, hingga cara setiap komponen digunakan dalam berbagai kondisi. Dengan begitu, setiap orang dalam satu tim bisa menghasilkan desain yang memiliki tampilan dan pengalaman yang seragam. Bayangkan kamu membuat beberapa halaman aplikasi. Semua halaman tentu membutuhkan tombol, kolom pencarian, kartu produk, atau menu yang bentuknya sama. Daripada membuat semuanya berulang kali, kamu cukup memakai komponen yang sudah tersedia. Nah, itulah cara kerja design system. Kamu tinggal menggunakan komponen yang sama di berbagai halaman sehingga desain tetap konsisten dan prosesnya jauh lebih cepat. Kenapa Banyak Pemula Melewatkannya? Banyak pemula ingin segera menghasilkan desain yang menarik. Mereka lebih fokus memilih warna, mencari ilustrasi, atau membuat tampilan yang estetik. Di sisi lain, mereka sering menganggap design system hanya dibutuhkan perusahaan besar. Padahal, kebiasaan seperti ini justru membuat proses belajar menjadi kurang efisien ketika proyek mulai berkembang. Misalnya, kamu membuat lima halaman aplikasi dengan tombol yang ukurannya berbeda-beda. Setelah selesai, kamu baru menyadari kalau semua tombol harus memiliki ukuran yang sama. Kalau kamu tidak memakai design system, kamu harus memperbaiki semuanya satu per satu. Sebaliknya, kalau sejak awal kamu menggunakan komponen yang sama, kamu cukup mengubah satu komponen dan seluruh halaman akan ikut menyesuaikan. Design System Membuat Desain Lebih Konsisten Salah satu manfaat terbesar design system adalah menjaga konsistensi desain. Pengguna akan merasa lebih nyaman ketika setiap halaman memiliki tampilan yang seragam. Mereka tidak perlu menyesuaikan diri setiap kali berpindah halaman karena posisi tombol, ukuran teks, maupun warna utama tetap sama. Pengalaman seperti inilah yang membuat sebuah aplikasi terasa lebih profesional. Selain membantu pengguna, konsistensi juga memudahkan desainer. Kamu tidak perlu lagi mengingat ukuran tombol, memilih warna yang sama berulang kali, atau menebak jarak antar elemen. Semua aturan sudah tersedia sehingga kamu bisa lebih fokus menyelesaikan masalah pengguna daripada mengatur detail yang sebenarnya sudah memiliki standar. Baca juga: 5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI Proses Desain Jadi Lebih Cepat Selain menjaga konsistensi, design system juga membantu kamu bekerja lebih efisien. Kamu cukup membuat satu komponen, lalu menggunakannya berkali-kali di berbagai halaman. Saat ingin memperbarui desain, kamu hanya perlu mengubah komponen utamanya. Semua halaman yang menggunakan komponen tersebut akan ikut berubah secara otomatis sehingga kamu bisa menghemat banyak waktu. Cara kerja seperti ini juga sering digunakan oleh tim desain di perusahaan teknologi. Mereka harus mengembangkan produk yang memiliki puluhan bahkan ratusan halaman. Tanpa sistem yang terstruktur, proses revisi akan memakan waktu jauh lebih lama dan peluang munculnya kesalahan juga semakin besar. Kapan Waktu yang Tepat untuk Mulai Belajar? Kamu tidak perlu menunggu menjadi UI/UX Designer profesional untuk mulai mempelajari design system. Justru semakin cepat kamu mengenalnya, semakin mudah juga kamu membangun kebiasaan yang baik saat mendesain. Setelah memahami dasar penggunaan Figma, cobalah membuat komponen sederhana seperti tombol, kolom input, atau kartu produk. Setelah itu, gunakan komponen yang sama di berbagai halaman agar kamu terbiasa bekerja secara konsisten. Seiring bertambahnya pengalaman, kamu bisa mulai mempelajari design system yang digunakan oleh perusahaan besar seperti Material Design atau Human Interface Guidelines. Dari sana, kamu akan memahami bagaimana perusahaan membangun produk digital yang konsisten sekaligus mudah dikembangkan oleh banyak desainer dan developer. Mulai Biasakan Menggunakan Design System Kalau tujuanmu hanya membuat satu halaman desain, mungkin kamu belum terlalu merasakan manfaat design system. Namun, ketika proyek mulai berkembang dan jumlah halamannya bertambah, kamu akan menyadari betapa pentingnya sistem yang rapi sejak awal. Itulah alasan banyak perusahaan menjadikan design system sebagai bagian penting dalam proses desain produk digital. Mulai sekarang, jangan langsung fokus membuat tampilan yang menarik. Biasakan menyusun komponen yang konsisten, menetapkan aturan desain, lalu gunakan kembali komponen tersebut di seluruh halaman. Kebiasaan sederhana ini akan membuat proses belajarmu lebih terarah sekaligus membantu kamu mempersiapkan diri menghadapi cara kerja UI/UX Designer di dunia profesional.

Gak Cuma Figma! 4 Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan
UI/UX Design

Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan, Gak Cuma Figma!

Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, kemungkinan besar Figma jadi tools pertama yang kamu pelajari. Memang tidak ada yang salah dengan itu karena banyak desainer juga memulai perjalanan mereka dari sana. Namun, skill UI/UX yang dicari perusahaan ternyata tidak berhenti di kemampuan membuat tampilan yang rapi atau menyusun prototype. Saat masuk ke dunia kerja, perusahaan biasanya mencari desainer yang mampu memahami pengguna, bekerja sama dengan tim, dan ikut membantu menyelesaikan masalah melalui desain. Banyak pemula merasa sudah cukup percaya diri setelah menguasai berbagai fitur di Figma. Mereka bisa membuat wireframe, menyusun component, atau bahkan membuat desain yang terlihat menarik. Padahal, kemampuan menggunakan tools hanyalah langkah awal. Perusahaan lebih menghargai desainer yang mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan desain daripada sekadar menghasilkan tampilan yang estetik. Pahami Design System Sejak Awal Banyak perusahaan sekarang menggunakan design system supaya proses desain berjalan lebih konsisten dan efisien. Karena itu, mereka juga mulai mencari desainer yang memahami cara menggunakan, mengembangkan, dan menjaga konsistensi design system. Skill ini membantu tim bekerja lebih cepat karena semua orang menggunakan komponen, warna, dan gaya desain yang sama dalam setiap produk. Kamu tidak harus langsung membuat design system yang rumit untuk mempelajarinya. Mulailah dari proyek sederhana dengan membiasakan diri menggunakan component, style, dan aturan desain yang konsisten. Kebiasaan kecil seperti ini akan membuat proses desainmu terasa lebih rapi sekaligus menunjukkan bahwa kamu sudah memahami cara kerja tim desain di perusahaan. Baca juga: UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu? Jangan Lewatkan Pentingnya User Research Desain yang bagus tidak selalu berasal dari ide desainer sendiri. Banyak keputusan desain justru muncul setelah tim memahami kebutuhan dan kebiasaan pengguna. Karena itu, banyak perusahaan mencari desainer yang mampu melakukan user research. Melalui proses ini, desainer dapat mengidentifikasi masalah yang benar-benar pengguna alami sebelum merancang solusi. User research tidak selalu berarti melakukan penelitian yang rumit. Kamu bisa memulainya dengan wawancara sederhana, menyebarkan kuesioner, atau mengamati bagaimana seseorang menggunakan sebuah aplikasi. Dari proses tersebut, kamu akan menemukan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan saat hanya melihat desain dari sudut pandangmu sendiri. Manfaatkan AI dengan Bijak untuk Meningkatkan Skill UI/UX Saat ini, banyak tools AI yang membantu desainer bekerja lebih cepat. Kamu bisa menggunakannya untuk mencari inspirasi, membuat wireframe, menyusun microcopy, atau mempercepat proses brainstorming. Namun, perusahaan tidak mencari desainer yang hanya mengandalkan AI. Mereka justru lebih menghargai orang yang tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan pemikiran sendiri. Karena itu, kamu tidak perlu menjadi ahli AI untuk mulai berkarier di bidang UI/UX. Cukup pahami bagaimana AI membantu proses desain tanpa menggantikan kreativitas maupun kemampuan berpikir kritis. Dengan cara itu, kamu bisa memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaan, bukan sebagai satu-satunya andalan. Skill UI/UX yang Dicari Perusahaan: Membuat Micro-interactions Pernah memperhatikan animasi kecil saat menekan tombol, membuka menu, atau menerima notifikasi di sebuah aplikasi? Detail seperti itu disebut micro-interactions. Walaupun terlihat sederhana, elemen kecil ini membuat pengalaman pengguna terasa lebih hidup dan membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di dalam aplikasi. Perusahaan mulai memberikan perhatian lebih pada micro-interactions karena detail kecil sering memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengguna. Kamu tidak perlu membuat animasi yang berlebihan. Fokus saja pada feedback sederhana yang membantu pengguna memahami setiap tindakan yang mereka lakukan saat menggunakan aplikasi. Jadi, Apakah Jago Figma Sudah Cukup? Jawabannya tentu belum. Perusahaan tidak hanya menilai kemampuan menggunakan Figma, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan merancang pengalaman pengguna. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memecahkan masalah, memahami pengguna, berkolaborasi dengan tim, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan produk. Itulah alasan kenapa skill UI/UX di luar Figma mulai menjadi nilai tambah yang cukup penting. Kalau kamu ingin berkarier sebagai UI/UX Designer, jangan berhenti setelah merasa nyaman menggunakan Figma. Mulailah mempelajari design system, membiasakan diri melakukan user research, memanfaatkan AI secara bijak, dan memahami pentingnya micro-interactions. Semakin banyak pengalaman yang kamu bangun di bidang tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk menarik perhatian perusahaan dan berkembang sebagai desainer profesional.

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI
UI/UX Design

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI

Beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) benar-benar mengubah cara banyak orang bekerja. Sekarang, berbagai tools sudah bisa membantu membuat wireframe, menyusun user flow, sampai menghasilkan tampilan antarmuka hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah profesi UI/UX Designer masih punya masa depan yang menjanjikan? Wajar kalau pertanyaan itu muncul, apalagi setiap hari selalu ada teknologi baru yang terus berkembang. Kalau kamu juga memiliki kekhawatiran yang sama, tenang dulu. Sampai hari ini, perusahaan tetap membutuhkan UI/UX Designer yang mampu memahami kebutuhan pengguna dan menyelesaikan masalah lewat desain. AI memang bisa mempercepat proses kerja, tetapi teknologi ini belum mampu menggantikan empati, cara berpikir, dan kreativitas manusia. Justru sekarang menjadi waktu yang tepat untuk belajar memanfaatkan AI sebagai pendukung, bukan sebagai pesaing. UI/UX Designer Perlu Melihat AI Sebagai Partner Kerja Banyak orang langsung menganggap AI sebagai ancaman karena mampu menghasilkan desain dalam waktu singkat. Padahal, kamu bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya berulang. Misalnya, mencari referensi desain, membuat beberapa alternatif layout, atau merangkum hasil user research. Dengan begitu, kamu punya lebih banyak waktu untuk memikirkan solusi terbaik bagi pengguna. Seorang UI/UX Designer tetap memegang kendali dalam setiap keputusan desain. Kamu yang menentukan arah produk, memilih solusi yang paling relevan, lalu memastikan setiap elemen benar-benar membantu pengguna mencapai tujuannya. Selama kamu menggunakan AI sebagai alat bantu, teknologi ini justru bisa membuat proses desain menjadi lebih efisien. Jangan Berhenti Melatih Cara Berpikir Seorang Desainer Banyak tools sekarang mampu menghasilkan tampilan yang terlihat menarik. Namun, tampilan yang bagus belum tentu mampu menyelesaikan masalah pengguna. Karena itu, seorang UI/UX Designer perlu terus melatih kemampuan berpikir kritis dan memahami alasan di balik setiap keputusan desain. Kemampuan inilah yang membuat hasil kerjamu memiliki nilai lebih dibanding sekadar desain yang terlihat estetik. Saat mengerjakan sebuah proyek, biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Masalah apa yang sedang aku selesaikan?” atau “Apakah solusi ini benar-benar memudahkan pengguna?”. Kebiasaan sederhana seperti ini akan membentuk pola pikir yang jauh lebih penting daripada sekadar menguasai banyak tools. Gunakan AI untuk Mempercepat Proses Belajar Kalau dulu kamu harus membuka banyak artikel atau menonton video selama berjam-jam untuk mencari jawaban, sekarang kamu bisa memanfaatkan AI sebagai teman belajar. Kamu bisa meminta penjelasan tentang prinsip desain, berdiskusi mengenai design system, atau mencari ide ketika mengalami creative block. Cara ini membantu kamu memahami konsep dengan lebih cepat sekaligus memperluas sudut pandang. Meski begitu, jangan langsung menerima semua jawaban yang diberikan AI. Biasakan membandingkan informasi tersebut dengan dokumentasi resmi, guideline, atau pengalaman para praktisi. Kebiasaan ini akan membuat proses belajarmu menjadi lebih kritis sekaligus membantu kamu membangun pemahaman yang lebih kuat. Baca juga: Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna? Kenali 5 Tandanya Bangun Portofolio yang Menunjukkan Proses Berpikirmu Saat ini, banyak orang bisa menghasilkan desain yang menarik dengan bantuan AI. Karena itu, perusahaan tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana proses berpikirmu. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memahami masalah, melakukan user research, menentukan prioritas, lalu memilih solusi yang paling tepat untuk pengguna. Kalau kamu sedang menyusun portofolio, jangan hanya menampilkan hasil desain yang sudah jadi. Ceritakan juga proses yang kamu lalui, tantangan yang kamu hadapi, serta alasan di balik setiap keputusan desain. Portofolio seperti ini akan membantu perusahaan memahami kemampuanmu sebagai UI/UX Designer, bukan sekadar melihat hasil visualnya. Terus Asah Kemampuan yang Tidak Bisa Digantikan AI Teknologi memang terus berkembang, tetapi beberapa kemampuan tetap menjadi keunggulan manusia. Misalnya, kemampuan berempati, berkomunikasi dengan stakeholder, berdiskusi bersama tim, dan memahami kebutuhan pengguna dari berbagai sudut pandang. Semua kemampuan tersebut membutuhkan interaksi, pengalaman, dan pertimbangan yang belum mampu dilakukan AI secara utuh. Karena itu, jangan hanya fokus mempelajari tools terbaru. Luangkan waktu untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, problem solving, dan critical thinking. Semakin kuat kemampuan tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk berkembang sebagai UI/UX Designer di tengah perubahan industri. AI Membantu UI/UX Designer Berkembang, Bukan Menggantikan Perkembangan AI memang membawa banyak perubahan dalam dunia desain. Namun, perubahan itu bukan berarti profesi UI/UX Designer akan menghilang. Sebaliknya, teknologi ini membuka kesempatan baru bagi desainer untuk bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih fokus menyelesaikan masalah yang benar-benar penting bagi pengguna. Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Cara kamu menggunakannya akan menentukan hasil yang kamu dapatkan. Kalau kamu terus belajar, mau beradaptasi, dan tetap mengutamakan kebutuhan pengguna dalam setiap desain, kamu tidak perlu takut menghadapi perkembangan teknologi. Justru, kemampuan beradaptasi itulah yang akan membuatmu menjadi UI/UX Designer yang semakin relevan di masa depan.

UI Designer atau UX Researcher_ Mana yang Cocok Buat Kamu
UI/UX Design

UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu?

UI Designer atau UX Researcher? Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang mulai tertarik masuk ke dunia UI/UX. Banyak orang awalnya mengira semua pekerjaan di bidang ini sama saja karena sama-sama berhubungan dengan desain aplikasi atau website. Padahal, UI Designer dan UX Researcher punya fokus kerja yang cukup berbeda. Semakin cepat kamu memahami perbedaannya, semakin mudah juga menentukan jalur belajar yang paling sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Kebingungan ini sebenarnya sangat wajar, terutama bagi mahasiswa dan fresh graduate yang baru mulai mengenal dunia desain digital. Apalagi sekarang banyak konten di media sosial yang membahas UI/UX tanpa menjelaskan peran-peran yang ada di dalamnya. Akibatnya, banyak orang langsung belajar Figma tanpa benar-benar memahami posisi mana yang ingin mereka tekuni. Padahal, memahami tujuan belajar sejak awal bisa membuat proses belajarmu terasa jauh lebih terarah. UI Designer atau UX Researcher, Apa Bedanya? Meski sering berada dalam satu tim yang sama, UI Designer dan UX Researcher punya fokus pekerjaan yang berbeda. Mereka sama-sama menciptakan produk digital yang memberikan pengalaman nyaman bagi pengguna, tetapi cara kerja keduanya berbeda. Justru perbedaan inilah yang membuat keduanya saling melengkapi selama proses pengembangan produk berlangsung. Kalau diibaratkan sebuah tim film, UX Researcher mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan penonton. Setelah mengumpulkan berbagai temuan, UI Designer menerjemahkan informasi tersebut menjadi tampilan yang menarik sekaligus mudah dipahami pengguna. Karena itulah banyak perusahaan membutuhkan kedua peran ini agar produk yang mereka buat tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga benar-benar berguna bagi pengguna. Apa yang UI Designer Kerjakan? UI Designer atau User Interface Designer berfokus pada tampilan sebuah produk digital. Mereka merancang tampilan aplikasi atau website agar pengguna bisa menggunakannya dengan nyaman dan mudah. Mulai dari pemilihan warna, tipografi, ikon, tata letak, hingga konsistensi visual menjadi bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar membuat desain terlihat menarik, tetapi juga membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen dengan lebih mudah. Karena itu, UI Designer biasanya cukup dekat dengan berbagai tools desain seperti Figma. Namun pekerjaan mereka tidak berhenti pada membuat tampilan yang estetik saja. Mereka juga perlu memastikan setiap elemen visual membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan nyaman. Desain yang bagus tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan lebih mudah. Kalau kamu termasuk orang yang suka mengeksplorasi visual, memperhatikan detail, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih rapi dan menarik, jalur UI Designer mungkin terasa lebih cocok. Kalau kamu suka kreativitas dan desain visual, jalur ini bisa terasa menyenangkan karena kamu bisa langsung mengubah ide menjadi tampilan yang bisa dilihat dan digunakan banyak orang. Apa yang Dikerjakan UX Researcher? Berbeda dengan UI Designer, UX Researcher atau User Experience Researcher lebih fokus memahami pengguna. Mereka mencari tahu kebutuhan, kebiasaan, masalah, hingga alasan seseorang menggunakan sebuah produk digital. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk membuat keputusan yang lebih tepat saat mengembangkan produk. Karena itu, UX Researcher banyak menghabiskan waktu untuk melakukan riset dan mengumpulkan data. Seorang UX Researcher bisa melakukan wawancara pengguna, menyebarkan survei, mengamati perilaku pengguna, hingga menganalisis berbagai data yang mereka kumpulkan selama proses riset. Lewat proses tersebut, mereka membantu tim memahami kebutuhan pengguna, menemukan hambatan yang sering muncul, dan menentukan solusi yang paling tepat untuk mengatasinya. Hasil riset ini kemudian menjadi acuan bagi tim desain maupun tim pengembang. Kalau kamu lebih suka menganalisis perilaku manusia, mencari pola dari data, atau penasaran dengan alasan seseorang mengambil keputusan tertentu, jalur UX Researcher bisa menjadi pilihan yang menarik. Posisi ini biasanya cocok untuk orang yang senang melakukan observasi, riset, dan berpikir secara analitis. Baca juga: Tips Desain UX, Cara Mudah Ciptakan Pengalaman Pengguna yang Nyaman dan Optimal UI Designer atau UX Researcher, Siapa yang Lebih Sering Menggunakan Figma? Ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemula. Banyak orang mengira semua profesi dalam UI/UX harus mahir menggunakan Figma. Faktanya, UI Designer memang menggunakan Figma hampir setiap hari karena pekerjaan mereka berhubungan langsung dengan pembuatan tampilan visual dan prototype. Sementara itu, UX Researcher tidak selalu menghabiskan banyak waktu di Figma. Mereka lebih sering menggunakan tools riset, dokumen, survei, atau platform analisis untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dari pengguna. Karena itu, kalau alasan utamamu tertarik UI/UX adalah karena suka mendesain tampilan aplikasi, kemungkinan besar jalur UI Designer akan terasa lebih dekat dengan minatmu. UI Designer atau UX Researcher, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula? Sebenarnya tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak. Semuanya kembali pada hal yang paling membuatmu tertarik untuk dipelajari lebih dalam. Kalau kamu sering memperhatikan tampilan aplikasi, suka mengatur warna dan tata letak, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih menarik, UI Designer bisa menjadi pilihan yang tepat. Sebaliknya, kalau kamu lebih tertarik memahami perilaku pengguna dan mencari alasan di balik sebuah masalah, UX Researcher mungkin akan terasa lebih cocok. Daripada terlalu sibuk memikirkan mana yang lebih keren atau lebih populer, lebih baik fokus memahami karakter dan minatmu sendiri. Banyak profesional UI/UX juga memulai perjalanan mereka dengan mencoba berbagai hal sebelum akhirnya menemukan bidang yang paling sesuai. Jadi, tidak masalah kalau saat ini kamu masih belum yakin sepenuhnya. Apakah Harus Memilih Salah Satu? Tidak juga. Banyak orang mempelajari dasar UI dan UX secara bersamaan ketika pertama kali masuk ke dunia desain digital. Dengan memahami keduanya, kamu bisa melihat gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana sebuah produk dibuat. Pengetahuan ini juga membantu kamu menentukan bidang mana yang paling menarik untuk ditekuni dalam jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, biasanya kamu akan mulai menemukan bagian yang paling kamu nikmati. Ada yang akhirnya lebih fokus menjadi UI Designer karena suka membuat tampilan visual. Ada juga yang memilih menjadi UX Researcher karena lebih menikmati proses memahami pengguna dan memecahkan masalah. Apa pun pilihanmu, keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam dunia produk digital. Pada akhirnya, pertanyaan tentang UI Designer atau UX Researcher bukan soal mana yang lebih baik. Pertanyaan yang lebih penting adalah bidang mana yang paling sesuai dengan cara kamu berpikir dan belajar. Ketika kamu memilih jalur yang sesuai dengan minatmu, proses belajar biasanya terasa lebih menyenangkan dan lebih mudah dijalani. Jadi, kalau saat ini kamu masih bingung harus mulai dari mana, cobalah mengenal keduanya terlebih dahulu. Dari sana, kamu akan lebih mudah menemukan

Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna_ Kenali 5 Tandanya
UI/UX Design

Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna? Kenali 5 Tandanya

Desain bagus tapi membingungkan pengguna ternyata lebih sering terjadi daripada yang banyak orang kira. Mungkin kamu pernah membuka aplikasi atau website yang langsung menarik perhatian karena tampilannya modern, rapi, dan estetik. Namun setelah beberapa menit menggunakannya, kamu justru kesulitan menemukan menu tertentu atau bingung harus menekan tombol yang mana. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa tampilan yang menarik saja belum tentu membantu pengguna mencapai tujuan mereka dengan nyaman. Banyak orang mengira desain yang bagus hanya soal warna, ilustrasi, atau tampilan yang estetik. Padahal dalam dunia UI/UX, desain yang baik juga harus membantu pengguna mencapai tujuan mereka dengan mudah. Kalau pengguna harus berpikir terlalu lama hanya untuk menyelesaikan tugas sederhana, berarti desain tersebut belum membantu mereka menyelesaikan tugas dengan efektif. Karena itulah seorang UI/UX Designer tidak hanya fokus pada visual, tetapi juga pada pengalaman pengguna secara keseluruhan. Kenapa Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna Masih Sering Terjadi? Banyak desainer pemula terlalu fokus membuat tampilan yang menarik secara visual. Mereka menghabiskan banyak waktu memilih warna, font, ilustrasi, atau animasi agar desain terlihat modern dan profesional. Sayangnya, fokus yang terlalu besar pada estetika terkadang membuat desainer mengabaikan aspek kemudahan penggunaan. Akibatnya, desain memang terlihat keren saat presentasi, tetapi pengguna sering kesulitan saat benar-benar menggunakannya. Masalah ini sebenarnya cukup wajar, terutama bagi orang yang baru mulai belajar UI/UX. Sebagian besar orang pertama kali tertarik pada desain karena tampilannya yang menarik. Seiring bertambahnya pengalaman, mereka mulai memahami bahwa desain yang efektif harus menyeimbangkan fungsi dan visual secara seimbang. Karena itulah banyak desain berhasil menarik perhatian, tetapi tetap membuat pengguna kebingungan saat berinteraksi dengannya. Tanda Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna: Tombol Sulit Ditemukan Salah satu tanda paling umum adalah ketika pengguna kesulitan menemukan tombol yang sebenarnya penting. Banyak desainer mencoba membuat tampilan yang bersih dan minimalis, tetapi mereka sering membuat tombol utama kalah menonjol dibanding elemen lainnya. Akibatnya, pengguna harus mencari-cari terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan yang mereka inginkan. Situasi seperti ini sering membuat pengalaman menggunakan aplikasi terasa lebih rumit dari yang seharusnya. Bayangkan kamu sedang menggunakan aplikasi belanja dan ingin menyelesaikan pembayaran. Kalau tombol pembayaran tidak langsung terlihat, pengguna bisa merasa frustrasi dan bahkan membatalkan prosesnya. Padahal tujuan desain adalah membantu pengguna menyelesaikan tugas dengan cepat dan mudah. Karena itu, desainer perlu menonjolkan elemen penting agar pengguna langsung menemukannya sejak pertama kali membuka halaman. Baca juga: 4 Roadmap Belajar UI/UX Desain Terlalu Banyak Informasi dalam Satu Tampilan Keinginan untuk menampilkan banyak informasi sekaligus sering menjadi kesalahan berikutnya. Beberapa desainer berpikir bahwa semakin banyak informasi yang mereka tampilkan, semakin lengkap pula pengalaman yang akan dirasakan pengguna. Padahal terlalu banyak elemen dalam satu layar justru membuat pengguna kesulitan menentukan fokus mereka. Akibatnya, pengguna harus menghabiskan lebih banyak waktu hanya untuk memahami isi halaman. Ketika desainer menumpuk terlalu banyak teks, gambar, tombol, dan informasi dalam satu halaman, pengguna sering kesulitan menentukan fokus mereka. Mereka jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami isi halaman tersebut. Karena itu, desainer yang baik biasanya mengatur prioritas informasi dengan jelas agar pengguna lebih mudah memahami isi halaman. Semakin mudah pengguna memahami apa yang penting, semakin nyaman pula pengalaman yang mereka rasakan. Navigasi Terlihat Keren, Tapi Membingungkan Pengguna Banyak desainer ingin membuat navigasi yang unik agar terlihat berbeda dari aplikasi lain. Kreativitas memang penting, tetapi pengguna biasanya sudah terbiasa dengan pola tertentu saat menggunakan aplikasi atau website. Ketika sebuah navigasi terlalu berbeda dari kebiasaan tersebut, pengguna justru membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Pada akhirnya, pengguna bisa merasa bingung meskipun tampilan aplikasinya terlihat menarik. Misalnya, pengguna umumnya mengharapkan ikon pencarian berada di bagian atas atau ikon profil berada di area tertentu. Kalau posisi atau bentuknya terlalu berbeda, pengguna bisa merasa kebingungan. Karena itu, desainer tetap bisa berinovasi selama mereka tidak mengorbankan kemudahan penggunaan. Desain yang baik seharusnya membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen tanpa perlu menebak-nebak. Animasi yang Justru Mengganggu Pengalaman User Animasi memang bisa membuat sebuah aplikasi terlihat lebih hidup dan modern. Banyak aplikasi populer menggunakan animasi untuk memberikan kesan yang lebih interaktif kepada pengguna. Namun penggunaan animasi yang berlebihan justru bisa mengganggu pengalaman pengguna secara keseluruhan. Apalagi jika setiap perpindahan halaman membutuhkan waktu yang terlalu lama. Sebagian besar pengguna ingin menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. Mereka tidak ingin menunggu animasi yang sebenarnya tidak memberikan manfaat apa pun. Karena itu, desainer sebaiknya menggunakan animasi untuk mendukung pengalaman pengguna, bukan sekadar menambah hiasan visual. Ketika desainer menggunakan animasi secara tepat, pengguna bisa memahami alur aplikasi dengan lebih mudah. Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna Sering Membuat Orang Keluar dari Aplikasi Ketika pengguna merasa bingung, mereka biasanya tidak akan bertahan lama. Mereka biasanya langsung menutup aplikasi, mencari website lain, atau beralih ke layanan yang terasa lebih mudah digunakan. Inilah alasan kenapa desain bagus tapi membingungkan pengguna bisa menjadi masalah serius bagi sebuah produk digital. Bahkan masalah kecil sekalipun bisa berdampak besar terhadap pengalaman pengguna. Bahkan desain yang terlihat profesional sekalipun bisa kehilangan fungsinya jika pengguna tidak memahami cara menggunakannya. Dalam banyak kasus, pengguna tidak menyalahkan diri sendiri ketika merasa bingung. Mereka justru menganggap aplikasinya yang buruk. Karena itu, kamu perlu memikirkan pengalaman pengguna sejak awal, bukan setelah desain selesai dibuat. Apa yang Bisa Dipelajari Desainer Pemula? Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, jangan hanya fokus pada tampilan visual. Cobalah melihat desain dari sudut pandang pengguna yang akan menggunakannya setiap hari. Coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah pengguna bisa langsung tahu harus klik apa dan pergi ke mana tanpa kebingungan. Kalau pengguna bisa memahami alur aplikasi dengan cepat, biasanya mereka juga akan merasa lebih nyaman saat menggunakannya. Kamu juga bisa mulai membiasakan diri melakukan user testing sederhana sebelum menganggap sebuah desain sudah selesai. Dari sana, kamu bisa menemukan banyak masalah yang sebelumnya luput dari perhatian saat mendesain. Proses ini membantu kamu memahami bagaimana pengguna benar-benar berinteraksi dengan sebuah produk digital. Kemampuan seperti inilah yang membedakan desainer yang hanya fokus pada visual dengan desainer yang benar-benar memahami kebutuhan pengguna. Desain yang menarik memang bisa membuat pengguna tertarik pada pandangan pertama. Namun desain yang benar-benar berhasil adalah desain yang membantu pengguna mencapai tujuan mereka tanpa kebingungan. Itulah kenapa desainer tidak bisa hanya menilai desain dari tampilannya saja, tetapi juga perlu

UI/UX Design

6 Shortcuts Figma yang Wajib Dikuasai, Salah Satunya Adalah Ini

Kalau kamu yang suka  ngulik desain pakai Figma, ada beberapa shortcut penting yang bisa bikin workflow kamu makin ngebut. Karena percaya atau enggak, kadang skill desain nggak cuma soal estetika aja. Tapi tentang gimana kamu  kerja lebih efisien. Yuk, kenalan sama 6 shortcuts Figma yang wajib dikuasai. Shortcuts ini nggak cuma bantu kamu desain lebih cepat, tapi bisa bikin kamu kelihatan pro pas ngulik layout. 6 Shortcuts Figma yang Wajib Dikuasai 1. Remove Fill Remove Fill tuh shortcut yang sering banget kepake kalau kamu lagi ngulik shape dan mau langsung ngehapus warna isinya tanpa drama buka panel kanan. Bisa kepakai pas kamu cuma butuh outline atau mau bikin shape yang kelihatan lebih clean dan aesthetic. Menariknya kamu  tinggal pencet Alt+/ nggak pake ribet kan? 2. Remove Stroke Remove Stroke bikin kamu bisa ngilangin garis luar shape dalam hitungan detik tanpa harus nyari panel kanan yang ribet. Fitur ini kepake banget kalau kamu lagi pengen bikin desain yang clean, flat, dan nggak mau ada garis yang ngerusak vibes. Kalau kamu lagi lupa shortcut-nya, tinggal pencet Shift+/ terus fiturnya langsung bisa dipakai deh. Intinya, shortcut ini bisa bikin desain lebih rapi, lebih aesthetic, dan proses editnya ringan tanpa drama. 3. Fill and Stroke Shortcut ini ibarat kombo sakti buat ngatur fill dan stroke sekaligus. Jadi kamu nggak perlu klik satu-satu di panel, cukup pake shortcut ini dan bentuk langsung punya isi dan garis dengan cepat. Kamu juga bisa langsung pencet Shift + X buat tukar posisi fill dan stroke biar makin cepat. Fill and stroke pastinya jadi bagian dari shortcut Figma yang wajib dikuasai. Hasilnya ya biar alur kerja kamu makin cepat dan nggak banyak buang waktu. 4. Outline Stroke Outline Stroke bantu kamu ngubah stroke jadi bentuk solid yang bisa diedit bebas. Fitur ini kepake banget pas kamu bikin ikon atau ilustrasi yang butuh detail presisi. Pas kamu pake, garis luar yang tadinya cuma outline langsung berubah jadi objek vector. Udah gitu vectornya bisa kamu edit sesuka hati. Kamu juga bisa pakai Shift + Ctrl + O biar lebih cepat. Shortcut ini bikin hasil desain kamu kelihatan jauh lebih rapi dan profesional. 5. Flatten Selection Flatten Selection ibarat penyelamat kalau file kamu udah kebanyakan grup atau layer yang numpuk. Shortcut ini bisa kamu pakai buat ngerapihin semua elemen jadi satu kesatuan. Outputnya jadi lebih simple dan gampang di-manage. Kamu juga bisa pakai Ctrl + E biar prosesnya makin cepat. 6. Join Selection Join Selection itu salah satu shortcuts Figma yang wajib dikuasai. Apalagi kalau kamu sering ngedit bentuk dengan banyak anchor point. Fitur ini ngebantu kamu nyambungin titik-titik biar shape lebih rapi dan mulus. Biasa banget kamu pakai buat bikin logo, bentuk custom, atau ilustrasi. Simpel tapi impactful,  dan kamu bisa langsung manggil fitur ini pakai CTRL + J. Akhirnya pembahasan kita kelar juga, dan sekarang kamu udah siap ngegas di Figma dengan workflow yang lebih cepat, rapi, dan kece. Shortcut-shortcut ini bakal jadi senjata andalan kamu buat ngedesain tanpa ribet lagi deh. 

UI/UX Design

4 Roadmap Belajar UI/UX Desain

Roadmap belajar UI/UX desain jadi panduan penting buat kamu yang baru mau mulai terjun ke dunia desain digital. Dengan rute belajar yang jelas, kamu bisa berkembang lebih tanpa takut kesasar. Roadmap ini bakal bantu kamu memahami langkah awal, tools penting, dasar-dasar UI, sampai gimana kamu bisa konsisten latihan biar skill makin naik level. 4 Roadmap Belajar UI/UX Desain 1. Kuasai Satu Software Desain Dulu Roadmap belajar UI/UX desain selalu dimulai dari memilih dan menguasai satu software desain. Kamu bisa pilih Figma, Sketch, atau Adobe XD, nggak harus menguasai semua sekaligus. Figma biasanya jadi favorit pemula karena gratis dan gampang diakses. Kalau kamu pengguna Mac yang suka tampilan simpel, Sketch bisa jadi pilihan nyaman. Nah, kalau Adobe XD cocok buat yang udah familiar sama produk-produk Adobe. Fokus aja bikn frame, layout, sampai prototyping sederhana. Kalau kamu udah ngerti satu software sampai lancar, kamu punya pondasi kokoh sebelum belajar hal-hal yang lebih kompleks. 2. Pelajari Tools-Tools Penting di Dalamnya Setelah nyaman sama softwarenya, roadmap belajar UI/UX desain lanjut ke tahap eksplor tools-tools inti yang bakal kamu pakai setiap hari. Misalnya di Figma, kamu perlu ngerti Auto Layout, Components, Styles, sampai fitur Prototyping. Tools-tools ini yang bikin workflow kamu makin cepet dan desain kamu makin konsisten. Nggak ada cara cepet selain latihan: klik, drag, ubah properti dan eksperimen sana-sini. Dunia UI/UX itu emang arena trial-and-error, dan dari eksplor kecil-kecilan gitu,  kamu bakal paham cara bikin layout yang rapi dan profesional. 3. Kuasai Basic UI Design Roadmap belajar UI/UX desain bakal naik level banget ketika kamu mulai mendalami basic UI design. Di sini kamu belajar soal warna, tipografi, spacing, grid system, hierarchy, sampai desain sistem. Ini ilmu yang ngebentuk “sense of design” kamu. Kamu bakal tahu kenapa tombol harus kontras, kenapa teks nggak boleh terlalu kecil, dan kenapa layout yang rapi bikin user betah. Cara belajar tergampang? Lihat aplikasi top kayak: Spotify, Tokopedia, Gojek, atau Instagram terus analisis tampilannya. Dari situ kamu bakal ngerti standar industri dan dapet insight buat style desain kamu sendiri. 4. Konsisten Latihan dan Bangun Jam Terbang Tahap terakhir di roadmap belajar UI/UX desain ini sebenarnya yang paling krusial: konsisten latihan. Skill desain nggak tumbuh dari teori doang, tapi dari seberapa sering kamu praktek. Mulai aja dari mini project kecil, redesign aplikasi populer sampai bikin landing page. Semakin sering latihan, semakin tajam insting desain kamu. Upload hasil karya ke Instagram, Dribbble, sampai Behance juga bisa bantu kamu dapet feedback yang bermanfaat. Nggak perlu insecure kalau hasil awalnya belum perfect, karena semua desainer pernah mulai dari nol. Akhirnya, perjalanan belajar UI/UX itu bukan sprint, tapi lebih kayak marathon yang seru. Selama kamu terus maju, belajar hal baru, dan berani eksplor, skill kamu bakal berkembang jauh lebih cepat dari yang kamu kira. Nikmati prosesnya, jangan terlalu keras sama diri sendiri, dan terus buka ruang buat belajar.

UI/UX Design

4 Panduan Membuat Portofolio UI/UX Pemula

Buat kamu yang baru masuk ke dunia desain digital, punya portofolio UI/UX tuh persoalan yang penting banget. Portofolio tuh bukan sekedar tempat buat naruh hasil desain, tapi juga nunjukin cara kamu mikir, nyelesain masalah sampai nyiptain solusi desain yang user-friendly.  Tapi tenang, kamu nggak harus langsung pro buat bisa mulai. Fokus utamanya bukan perfect, tapi progress. Nah, di artikel ini, kita bahas bareng yuk 4 panduan membuat portofolio UI/UX pemula yang gampang diterapin. Cocok banget buat kamu yang masih pemula tapi tetep pengen kelihatan elegan. Panduan Membuat Portofolio UI/UX Pemula 1. Figma: Rumah Utama Buat Semua Desainmu Figma tuh ibarat rumah buat desainer UI/UX. Segala proses desain biasanya dilakukan pakai platform ini, muladi rari bikin user flow sampai prototyping interaktif. Nah, buat pemula platform satu ini tuh cukup ramah, karena punya tampilan yang simple tapi gampang dipahami.  Kamu bisa tuh eksplorasi pakai Figma misal bikin wireframe polos biar nggak overwhelmed sama warna halaman atau visual. Selain itu, kamu juga bisa manfaatin fitur auto layout biar desain rapi tanpa ribet. Kalau pingin lebih cepat lagi, kamu bisa  pakai Plugin AI Figma yang bisa bantu cepetin workflow. Intinya buat punya portofolio kamu jangan takut nyoba, jangan kebanyakan overthinking kalau desain masih kelihatan jelek di awal-awal. Karena semua desainer professional  pernah ngalamin fase pemula, tapi mereka nggak berhenti coba. Ikuti aja prosesnya, dan jangan ragu nunjukin progres kamu di portofolio.  2. Unblast: Sumber Mockup Gratis Biar Portofolio Mu Makin Estetik Desain UI tanpa mockup itu ibarat mie instan tanpa telur, masih enak, tapi kurang wow. Makanya mockup penting banget buat bikin portofolio kamu keliatan lebih hidup dan profesional. Unblast jadi salah satu tempat terbaik buat kamu nyari mockup gratis dan berkualitas. Di situ kamu bisa nemu mockup smartphone, laptop, packaging,  browser frame, dan segala jenis elemen visual yang bikin hasil desain kamu tampil lebih estetik.  Pilih mockup yang clean dan minimalis biar desainmu tetap jadi fokus utama. Usahain juga tone-nya selaras sama style desainmu, kayak warna, vibe, dan nuansa visual. Dengan mockup yang tepat, portofolio kamu bakal keliatan jauh lebih elegan meski kamu masih pemula. 3. Google AI Studio: Bantuin Riset Kilat Tanpa Bikin Overthinking UI/UX nggak cuma soal warna yang aesthetic, tapi juga soal riset. Dan kadang riset bisa super melelahkan kalau kamu masih pemula. Nah, Google AI Studio ada sebagai penyelamat buat kamu yang butuh insight cepat tapi nggak muter-muter. Kamu pakai aja Google AI Studio buat nemuin user persona, ngulik masalah user, sampai rapihin data riset biar gampang dipahami. Kamu tinggal masukin prompt sesuai kebutuhan,  dan jadi deh.  Ini bakal bantu kamu banget waktu bikin case study di portofolio, karena recruiter biasanya lebih tertarik sama cara kamu ngambil keputusan dan mikir sebagai desainer. Bukan cuma tampilan akhirnya aja. Kamu jadi bisa bikin riset yang rapi, masuk akal, tapi tetap mudah dipahami dengan Google AI Studio. 4. ChatGPT: Bestie Buat Nulis Case Study yang Mengalir dan Nggak Kaku Desain yang bagus itu penting, tapi storytelling dalam case study juga punya peran krusial. Sayangnya, nggak semua orang suka nulis. Makanya ChatGPT bisa jadi sahabat terbaik kamu buat nyusun portofolio UI/UX yang lebih profesional.  Kamu bisa minta ChatGPT buat merapikan bahasa case study, bikin alurnya lebih manusiawi, atau ngejelasin proses desainmu biar lebih jelas dan masuk akal. Misalnya kalau kamu bingung harus mulai dari mana, kamu tinggal paste tulisan mentahmu dan minta ChatGPT memperhalusnya. Kalau kehabisan ide, ChatGPT Juga bisa bantu brainstorming loh. Intinya portofolio UI/UX pemula itu nggak serumit yang dibayangin. Kamu nggak perlu langsung menjadi profesional di awal. Mulai aja dulu dengan tools dan platform yang paling mudah dipakai. Berprogress, latihan maka kamu selangkah lebih maju di dunia desain setiap harinya.

UI/UX Design

6 Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba

Plugin AI Figma itu udah kayak lifesaver buat para desainer yang tiap hari ngulik Figma. Kamu pasti tau rasanya: ngatur layout yang rempong, bikin komponen satu-satu, ngerjain wireframe sampai mata merah, sampai revisi berkali-kali.   Capek, kan? Nah, udah bukan zamannya ngedesain serba manual, karena udah ada AI yang bisa ngebut banget bantuin workflow kamu jadi lebih cepat, rapi, dan estetik parah. Plus, cara pakenya super gampang, cocok buat kamu yang pengen hasil kece tanpa ribet. So, here you go,  ada 6 rekomendasi Plugin AI Figma yang  literally wajib kamu coba. Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba 1. Clueify Clueify tuh kayak asisten pribadi yang selalu ngerti kamu. Plugin satu ini bisa ngebantu kamu nyari referensi visual, style, sampai elemen desain yang relevan cuma pakai satu kata kunci. Jadi kalau kamu lagi stuck atau kehabisan inspirasi, tinggal masukin keyword dan Clueify bakal nyediain rekomendasi desain yang super relevan.  2. Flowkit Flowkit itu ibarat shortcut suci buat kamu yang sering ngegarap user flow, wireframe, atau prototype. Plugin ini ngebantu kamu bikin diagram, arrow, sampai komponen navigasi super cepat. Walaupun Flowkit bukan murni AI dari awal, update barunya udah makin smart karena AI-nya bisa bantu nyesuaiin struktur flow sesuai pola desain yang kamu bikin.  3. Automator Kalau kamu pernah capek karena harus ngulang-ngulang tugas kecil kayak rename layer, duplikat komponen, sampai generate state maka Plugin ini sangat bisa bantu kamu. Automator tuh kayak cheat-code buat ngejalanin banyak tugas otomatis cuma dengan satu klik atau satu perintah. Bahkan kamu bisa bikin resep sendiri buat action tertentu, biar kerjaan repetitif langsung kelar tanpa drama. Cocok banget buat kamu yang punya project gede dengan banyak layer atau file yang berantakan. Hasil akhirnya? Workflow lebih clean, cepat, dan zero keribetan. 4. Relume Relume tuh jagonya bikin desain website super cepat tapi tetep high-quality. Plugin AI Figma ini punya ratusan komponen dan blok desain yang siap di-generate otomatis sesuai kebutuhan. Kamu tinggal masukin prompt singkat, terus Relume bakal nyediain layout full yang udah estetik dan well-structured. Cocok banget buat desainer Webflow atau UI designer yang dikejar deadline tapi pengen hasil tetap rapi dan modern. 5. Pixlore Kalau kamu main di area visual, branding, atau ilustrasi, Pixlore bakal jadi plugin favorit baru kamu. Plugin AI Figma ini bisa  nge-generate icon, ilustrasi, dan elemen dekoratif langsung dari prompt. Menariknyawebsite apa pun bisa langsung di generate ke file Figma yang bisa kamu edit. Kamu tinggal paste link website terkait, langsung deh bisa di-custom. 6. Magnestics Magnestics adalah Plugin AI Figma buat kamu yang obsess sama layout rapi dan alignment yang satisfyingly clean. Plugin satu ini juga nyediain koleksi icon yang dibikin sama AI. Kamu tinggal pilih aja sesuai selera dan langsung tempel. Jadi nggak perlu lagi ribet nyari icon satu per satu lagi. Nah, habis kenal sama 6 Plugin AI Figma ini, kamu bisa kerja lebih cepat, lebih rapi, dan pastinya lebih kreatif. Tinggal pilih yang paling cocok sama workflow kamu, dan habis itu itu desain kamu bakal naik level tanpa effort berlebihan.

Scroll to Top