Pernah nggak kamu ngerasa bingung setengah mati pas buka aplikasi atau website tertentu? Kayak, tampilannya asing dan kamu super bingung mau klik tombol yang mana? Pas mau memahami, kamu malah makin pusing karena takut salah pencet. Nah, peran UX Writing sangat dibutuhkan di situasi semacam ini. Eh, tapi udah tahu belum apa itu UX Writing? Kalau belum yuk sima artikel ini sampai akhir, karena nggak cuma pengertian, kamu bakal dikasih tahu dasar-dasar UX Writingnya juga loh. Apa Itu UX Writing? Secara sederhana UX Writing adalah seni nulis teks di antar muka pengguna, seperti tombol, pesan kesalahan, atau petunjuk di aplikasi dan website. 1. Memiliki TujuanTujuannya jelas, supaya pengguna ngerasa nyaman dan lebih mudah memahami web atau aplikasi. Anggap aja UX Writing tuh semacam pemandu wisata versi digital, dia yang bakal bantuin kamu jelajahi aplikasi tanpa takut nyasar. 5 Prinsip Dasar UX Writing 1. Memiliki Tujuan Prinsip dasar UX Writing yang pertama adalah memiliki tujuan. Prinsip satu ini sangat jelas, artinya tiap tulisan harus ada tujuan yang make sense. Nggak melulu buat hiasan apalagi menuh-menuhin ruangan. Pastikan setiap kata punya maksud dulu sebelum kamu nulis. Contohnya, kalau kamu nulis tombol “Daftar” di website, berarti saat pengguna ngeklik tombol itu, kamu langsung arahin mereka ke halaman pendaftaran. Teks ini perannya besar, karena bakal membantu pengguna buat memahami tindakan lanjutan yang harus dia lakukan. 2. Jelas dan Singkat Selain punya tujuan, teks pada UX Writing harus jelas, biar pengguna nggak perlu repot memahami, apalagi sampai berpikir keras. Jauhin kalimat rumit dan jargon nggak jelas. Karena jelas aja masih kurang, kalau kalimatnya super panjang. Alih-alih paham instruksi, pengguna malah ngerasa kewalahan duluan. Gini aja, kamu bisa coba menyampaikan pesan dengan kata yang padat tapi tetap tepat. Contohnya, daripada kamu nulis “Klik di sini untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang cara menggunakan fitur ini,” lebih baik kamu tulis “Pelajari Cara Menggunakan Fitur Ini.” 3. Conversational atau Bersifat Percakapan Prinsip dasar UX Writing selanjutnya adalah conversational atau mirip percakapan. Prinsip satu ini bikin pengguna ngerasa seolah-olah kamu lagi ngajak mereka ngobrol. Gaya bahasa satu ini juga bisa bikin suasana jadi hangat dan interaksi pengguna dengan produk digital kerasa lebih manusiawi. Jangan pakai bahasa baku yang super kaku, pilih bahasa informal yang terdengar ramah. Contohnya, daripada kamu nulis “Kamu harus memasukkan data yang valid,” lebih baik kamu tulis “Masukkan data yang benar, ya!” biar pengguna ngerasa lebih nyaman. 4. Appropriate atau Sesuai Terus, apa lagi prinsip dasar UX Wrting selain yang tadi? Jawabannya adalah Appropriate atau sesuai. Yup prinsip satu ini mengutamakan kesesuaian. Pilih gaya bahasa yang relevan sama audiens. Walaupun lebih bagus yang informal, tapi kalau website atau aplikasi seputar kesehatan aturin aja biar teksnya lebih formal dan professional. Beda lagi kalau di website game, kamu bebas aja pakai bahasa yang santai. Nggak cuma itu, pertimbangin aspek buadaya lokal, apa aja yang berlaku di tempat A tapi tidak berlaku di tempat B. Kalau kamu berhasil memastiin teks UI sesuai konteks, secara nggak langsung kamu udah bantu pengguna ngerasa lebih dipahami. 5. Konsistensi Prinsip dasar UX Writing yang terakhir adalah konsistensi. Yup, biasanya meliputi bahasa, dan istilah di sebuah web atau aplikasi. Kalau gaya bahasa yang dipakai konsisten, pengguna pasti lebih mudah memahami. Jadi nggak gampang bingung merekanya. Misal kamu udah pakai istilah “Daftar” di salah satu halaman website, eh di halaman yang lain ada yang pakai istilah “Registrasi”, itu bikin pembaca bingung. Mending dibikin konsisten dalam semua halaman web, mau pakai istilah “Registrasi” atau “Daftar”. Proses Penulisan UX Writing 1. Kenali Pengguna Dulu Langkah awal yang nggak boleh kamu lewatin. Kamu perlu cari tahu siapa pengguna dan apa yang mereka butuhkan. Bisa lewat ngobrol langsung, bikin survei, atau perhatiin perilaku mereka saat pakai produk. 2. Tentukan Gaya Bicara Setelah tahu siapa audiensnya, mulai tuh riset jenis tulisan yang cocok. Apakah harus formal, santai, lucu, atau serius? Ini penting ya biar tulisan kamu lebih nyambung sama pengguna. 3. Tulis Draft Pertama Mulai nulis teks yang jelas, gampang dimengerti, dan konsisten. Ingat ya , tujuan utama UX Writing itu bikin pengguna paham tanpa harus mikir keras. Bukan nambahin pusing di kepala mereka. 4. Cek Keterbacaan Habis draf UX Writing jadi, tanya dulu ke pengguna asli, itung-itung buat sampel. Lihat sejauh mana mereka paham sama tulisan itu. 5. Revisi dan Perbaiki Kalau pengguna masih banyak bingung daripada pahamnya, berarti kamu harus revisi ulang teksnya. Nggak papa, emang kadang butuh berberapa kali revisi biar hasil UX Writing lebih enak dibaca. 6. Masukkan ke Produk Kalau udah oke semua, tinggal terapin aja ke produk, entah itu website atau aplikasi. Pastiin juga penulisannya konsisten di semua bagian biar pengalaman pengguna tetep mulus. 7. Pantau dan Sesuaikan Kerjaan belum selesai! Perhatikan cara pengguna berinteraksi dengan teks kamu. Kalau ada yang kurang pas, jangan ragu buat menyesuaikan lagi. Nah, itu dia sejumlah prinsip dasar UX Writing sampai step-step penulisannya. Jadi lebih paham dong caranya bikin UX Writing yang nggak cuma enak dibaca, tapi bisa bikin pengguna betah.