Website Developer

Jangan Sampai Ketinggalan! 5 Plugin VS Code yang Bikin Coding Lebih Cepat
Web Development

5 Plugin VS Code yang Bikin Coding Lebih Cepat

Kalau kamu sering coding pakai Visual Studio Code, plugin VS Code bisa membantu membuat pekerjaan terasa lebih praktis. Mulai dari melengkapi kode secara otomatis, menemukan error, sampai mengatur tampilan editor, ada banyak plugin yang bisa kamu manfaatkan. Buat kamu yang masih belajar web development, beberapa plugin bahkan bisa menghemat waktu saat mengerjakan proyek. Nah, VS Code punya ribuan extension atau plugin yang bisa membantu kamu menyelesaikan pekerjaan seperti itu. Kamu bisa memasang plugin langsung melalui Extension Marketplace, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan proyek yang sedang kamu kerjakan. Jadi, daripada melakukan pekerjaan yang sama berulang kali, kamu bisa membiarkan beberapa plugin membantu mempercepat workflow coding-mu. Tapi, jangan sampai karena melihat banyak pilihan, kamu malah memasang puluhan plugin sekaligus. Terlalu banyak ekstensi bisa membuat VS Code terasa penuh dan kamu justru kesulitan menentukan mana yang benar-benar berguna. Kalau kamu masih pemula, coba mulai dari beberapa plugin VS Code yang memang punya fungsi praktis seperti lima pilihan berikut. 1. Prettier untuk Merapikan Kode Pernah selesai menulis kode, lalu melihat hasilnya berantakan karena jarak, indentasi, atau penempatan barisnya nggak konsisten? Kalau iya, Prettier bisa membantu merapikan kode secara otomatis. Plugin ini berfungsi sebagai code formatter yang menata kode berdasarkan aturan format yang sudah kamu tentukan. Prettier mendukung berbagai bahasa dan format, termasuk JavaScript, TypeScript, HTML, CSS, JSON, dan Markdown. Prettier – Code formatter di VS Code Marketplace Misalnya, kamu sedang membuat halaman website dan kode HTML-mu mulai panjang. Daripada mengatur indentasi dan jarak setiap elemen satu per satu, kamu cukup menjalankan perintah Format Document untuk merapikannya. Kamu juga bisa mengaktifkan format on save sehingga Prettier langsung menjalankan format ketika kamu menyimpan file. Buat pemula, kebiasaan seperti ini bisa membuat kode lebih rapi sekaligus menghemat waktu saat mengerjakan proyek. 2. Plugin VS Code untuk Menjalankan Website dengan Live Server Saat belajar HTML dan CSS, kamu mungkin sering melakukan satu hal yang cukup membosankan: menyimpan kode, membuka browser, lalu melakukan refresh untuk melihat perubahan. Kalau proses itu kamu ulang berkali-kali, pekerjaan kecil tadi bisa terasa cukup mengganggu. Live Server menawarkan cara yang lebih praktis dengan menjalankan website melalui local development server dan menyediakan fitur live reload. Live Server di VS Code Marketplace Cara kerjanya cukup sederhana. Setelah memasang plugin, kamu bisa menjalankan halaman website dari VS Code menggunakan tombol Go Live. Ketika kamu mengubah kode dan menyimpannya, browser dapat memperbarui tampilan secara otomatis. Misalnya, kamu sedang mengatur warna tombol, ukuran teks, atau jarak antarbagian halaman. Kamu bisa langsung melihat hasil perubahan tersebut tanpa harus terus-menerus melakukan refresh secara manual. 3. ESLint untuk Membantu Menemukan Masalah Kode Kode yang berjalan belum tentu sudah tertata dengan baik. Saat membuat proyek JavaScript, kamu bisa saja melakukan kesalahan penulisan, menggunakan pola kode yang kurang sesuai, atau membuat bagian tertentu yang berpotensi menimbulkan masalah. ESLint membantu kamu menemukan masalah seperti ini langsung dari editor sehingga kamu bisa memperbaikinya sebelum kesalahan tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih besar. ESLint di VS Code Marketplace Misalnya, kamu sedang membuat proyek JavaScript dan VS Code menunjukkan tanda pada bagian kode tertentu. Kamu bisa mengarahkan kursor ke bagian tersebut untuk melihat informasi mengenai masalahnya. Dari sana, kamu bisa memeriksa kembali kode dan menentukan perbaikan yang sesuai. Cara ini juga bisa membantu kamu belajar karena kamu nggak hanya melihat bahwa kode memiliki masalah, tetapi bisa memahami bagian mana yang perlu kamu perhatikan. Baca juga: Gak Perlu Bayar! 5 Cara Deploy Website Gratis Buat Pemula 4. Auto Rename Tag Biar Nggak Salah Edit HTML Kalau kamu sering menulis HTML, kamu pasti sudah nggak asing dengan pasangan opening tag dan closing tag. Masalahnya, ketika struktur HTML mulai panjang, mencari tag pasangannya bisa cukup merepotkan. Apalagi kalau kamu ingin mengganti <div> menjadi <section> dan harus mengubah tag pembuka serta penutupnya secara manual. Auto Rename Tag bisa membantu pekerjaan tersebut. Ketika kamu mengubah salah satu tag HTML atau XML, plugin ini akan ikut mengubah pasangan tag-nya. Auto Rename Tag di VS Code Marketplace Bayangkan kamu punya struktur HTML dengan banyak elemen yang bertumpuk. Kamu ingin mengubah satu bagian dari <div> menjadi <article>, tetapi tag penutupnya berada cukup jauh dari bagian yang sedang kamu edit. Dengan Auto Rename Tag, kamu cukup mengubah salah satunya dan plugin akan menyesuaikan pasangannya. Fitur ini memang sederhana, tetapi cukup membantu ketika kamu mulai mengerjakan halaman dengan struktur yang lebih kompleks. 5. Plugin VS Code untuk Memahami Perubahan Kode dengan GitLens Kalau kamu mulai belajar Git, kamu mungkin pernah bertanya-tanya siapa yang mengubah sebuah baris kode, kapan perubahan tersebut terjadi, atau apa yang sebenarnya berubah dari versi sebelumnya. GitLens bisa membantu kamu melihat informasi tersebut langsung dari VS Code. Plugin ini menambahkan berbagai fitur Git ke dalam editor sehingga kamu bisa memahami riwayat perubahan tanpa harus berpindah-pindah aplikasi. GitLens di VS Code Marketplace Fitur seperti ini akan terasa semakin berguna ketika kamu mulai mengerjakan proyek bersama orang lain. Misalnya, kamu menemukan bagian kode yang tiba-tiba berubah dan ingin mengetahui siapa yang melakukan perubahan tersebut. Kamu bisa melihat informasi Git langsung dari editor dan menelusuri riwayatnya. Dari sini, kamu juga bisa mulai memahami bahwa pekerjaan web developer nggak berhenti pada menulis kode, tetapi juga mencakup cara mengelola dan bekerja sama dalam sebuah proyek. Jangan Asal Pasang Banyak Plugin VS Code Setelah melihat lima pilihan tadi, mungkin kamu langsung ingin memasang semuanya. Sebenarnya nggak masalah selama setiap plugin memang punya fungsi yang kamu butuhkan. Namun, jangan memasang ekstensi hanya karena melihatnya muncul dalam daftar rekomendasi. Coba pikirkan dulu masalah apa yang paling sering kamu temui saat coding, lalu cari plugin yang bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut. VS Code sendiri menyediakan Extension Marketplace untuk membantu pengguna mencari ekstensi berdasarkan fungsi dan kebutuhan mereka. Misalnya, kamu sering merasa kode berantakan setelah selesai menulis, mulai dari Prettier. Kalau kamu sering membuat halaman HTML, Live Server dan Auto Rename Tag bisa membuat pekerjaan terasa lebih praktis. Saat mulai mengerjakan JavaScript, kamu bisa mencoba ESLint untuk membantu menemukan masalah pada kode. Setelah mulai menggunakan Git, GitLens bisa menjadi pilihan untuk memahami perubahan dalam proyek. Jadi, kamu nggak perlu mengejar jumlah plugin yang terpasang, cukup pilih yang benar-benar membantu workflow-mu. Coding Lebih Cepat Dimulai dari

Website Lemot? Kenali 5 Penyebabnya
Web Development

Website Lemot? Kenali 5 Penyebabnya

Pernah ngga kamu membuka sebuah website, tetapi harus menunggu cukup lama sampai halamannya muncul? Baru beberapa detik aja, rasanya sudah ingin menutup tab dan mencari website lain. Kondisi seperti ini biasanya muncul ketika website lemot dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menampilkan konten. Padahal, website yang menarik bukan cuma soal tampilan yang keren. Kamu juga perlu memperhatikan kecepatan dan kenyamanan pengguna saat mengaksesnya. Kalau kamu sedang belajar web development, masalah seperti ini wajib kamu pahami. Banyak faktor yang bisa memengaruhi kecepatan website, mulai dari ukuran gambar, penggunaan JavaScript, jumlah request, sampai performa server. Jadi, jangan langsung menyalahkan koneksi internet ketika sebuah halaman terasa lambat. Bisa saja masalahnya justru berasal dari cara kamu membangun dan mengoptimalkan website tersebut. Kenapa Website Lemot Bikin Pengunjung Pergi? Coba bayangkan kamu sedang mencari informasi penting di internet. Kamu sudah menemukan website yang kelihatannya sesuai, tetapi halaman tersebut tidak kunjung muncul. Kamu mungkin masih mau menunggu beberapa detik, tetapi kalau terus berlanjut, kemungkinan besar kamu akan mencari sumber lain. Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa kecepatan website ikut menentukan apakah pengguna merasa nyaman atau justru meninggalkan halaman. Web performance sendiri nggak hanya membahas seberapa cepat sebuah halaman selesai dimuat. Kamu juga perlu memperhatikan seberapa cepat pengguna bisa melihat konten utama, berinteraksi dengan tombol, dan menggunakan halaman tanpa gangguan. Karena itu, developer perlu memikirkan performa sejak awal proses pengembangan, bukan hanya setelah website selesai. 1. Ukuran Gambar Terlalu Besar Gambar sering menjadi salah satu penyebab website lemot yang paling mudah ditemukan. Misalnya, kamu ingin memasukkan foto untuk banner, lalu langsung menggunakan file beresolusi sangat tinggi tanpa mengecilkan ukurannya. Browser akhirnya harus mengunduh data yang jauh lebih besar sebelum menampilkan gambar tersebut. Kalau sebuah halaman memuat banyak gambar sekaligus, ukuran total halaman tentu ikut bertambah dan proses loading bisa terasa lebih lama. Sebelum memasukkan gambar ke website, coba sesuaikan ukurannya dengan kebutuhan halaman. Kamu juga bisa mengompres gambar dan memilih format yang sesuai agar file tetap terlihat jelas tanpa membawa ukuran yang berlebihan. Untuk gambar yang berada jauh di bawah halaman, kamu bisa menggunakan teknik lazy loading supaya browser tidak perlu memuat semuanya sejak awal. MDN juga menyebut optimasi gambar sebagai salah satu langkah yang cukup efektif untuk mengurangi beban halaman. 2. Terlalu Banyak JavaScript JavaScript memang membuat website terasa lebih hidup. Kamu bisa menggunakannya untuk membuat dropdown, animasi, form validation, carousel, sampai berbagai fitur interaktif lainnya. Namun, terlalu banyak JavaScript juga bisa membuat browser bekerja lebih keras. Browser perlu mengunduh, membaca, dan menjalankan kode tersebut sebelum pengguna bisa menikmati halaman secara optimal. Karena itu, jangan memasukkan JavaScript hanya karena sebuah fitur terlihat keren. Coba tanyakan dulu apakah fitur tersebut benar-benar berguna bagi pengguna. Kamu juga bisa menunda kode yang belum dibutuhkan pada awal halaman dan mengurangi script yang tidak terpakai. MDN menjelaskan bahwa JavaScript dapat memengaruhi waktu unduh, proses rendering, penggunaan CPU, hingga respons halaman ketika pengguna berinteraksi. Baca juga: Gak Perlu Bayar! 5 Cara Deploy Website Gratis Buat Pemula 3. Terlalu Banyak Request ke Server Ketika kamu membuka sebuah website, browser nggak hanya mengambil satu file. Browser bisa meminta HTML, CSS, JavaScript, gambar, font, ikon, dan berbagai aset lain dari server. Setiap kebutuhan tersebut bisa menghasilkan request ke server. Kalau halaman memuat terlalu banyak resource secara terpisah, browser harus mengerjakan lebih banyak hal sebelum halaman bisa tampil dengan optimal. Bayangkan kamu sedang memesan makanan, tetapi pelayan harus bolak-balik ke dapur untuk mengambil setiap bahan satu per satu. Prosesnya tentu terasa lebih lama dibandingkan ketika pelayan mengambil beberapa kebutuhan sekaligus. Browser juga menghadapi situasi yang mirip ketika sebuah halaman mengirim terlalu banyak request. Karena itu, kamu perlu mengecek resource apa saja yang benar-benar dibutuhkan dan mengurangi file yang tidak memberikan manfaat berarti. 4. Server Membutuhkan Waktu Lama untuk Merespons Kadang-kadang, sumber masalah website lambat bukan berasal dari kode di sisi pengguna. Server juga punya peran besar karena browser perlu mengirim permintaan sebelum mendapatkan data yang dibutuhkan. Kalau server membutuhkan waktu lama untuk memproses permintaan tersebut, pengguna tentu harus menunggu lebih lama sebelum halaman mulai menampilkan konten. Beberapa hal bisa memengaruhi kondisi ini, seperti beban trafik yang tinggi, proses database yang berat, konfigurasi server, atau jarak antara pengguna dan server. Karena itu, developer perlu melihat performa dari dua sisi: client dan server. Jangan hanya memeriksa HTML, CSS, atau JavaScript ketika halaman terasa lambat. Kamu juga perlu mencari tahu apakah server merespons permintaan dengan cepat atau justru menjadi titik masalahnya. 5. Cek Performa untuk Menemukan Penyebab Website Lemot Membuat website sampai bisa tampil di browser bukan berarti pekerjaanmu selesai. Kamu juga perlu mengecek bagaimana website tersebut bekerja ketika orang mengaksesnya melalui perangkat dan koneksi yang berbeda. Website yang terasa cepat di laptop dengan koneksi Wi-Fi belum tentu memberikan pengalaman yang sama ketika seseorang membukanya melalui smartphone dengan jaringan yang lebih lambat. Untuk membantu mengecek performa, kamu bisa mengenal Core Web Vitals. Google menggunakan tiga metrik utama, yaitu Largest Contentful Paint (LCP) untuk mengukur kecepatan munculnya konten utama, Interaction to Next Paint (INP) untuk melihat respons halaman terhadap interaksi, dan Cumulative Layout Shift (CLS) untuk mengukur kestabilan tampilan. Kamu nggak perlu langsung menghafalkan semua istilah tersebut. Sebagai pemula, kamu bisa mulai dengan menggunakan tools seperti Lighthouse untuk melihat bagian mana yang membuat performa website kurang optimal. Setelah menemukan masalahnya, kamu bisa memperbaikinya satu per satu. Dari kebiasaan ini, kamu akan mulai memahami bahwa membuat website bukan hanya tentang menulis kode, tetapi juga memastikan kode tersebut bekerja dengan baik. Jadi, Gimana Cara Mengatasi Website Lemot? Kalau website yang kamu buat terasa lambat, jangan langsung mengganti seluruh kode atau menyalahkan hosting. Cari dulu sumber masalahnya. Periksa ukuran gambar, jumlah JavaScript, banyaknya request, waktu respons server, serta hasil pengujian performa. Dengan cara ini, kamu bisa melakukan optimasi berdasarkan masalah yang benar-benar muncul, bukan sekadar mengikuti tips yang belum tentu sesuai dengan kondisi website. Kamu juga bisa membiasakan diri mengecek performa setiap kali menambahkan fitur baru. Misalnya, setelah memasukkan gambar berukuran besar, beberapa plugin, atau script tambahan, coba lihat kembali perubahan performanya. Kebiasaan sederhana ini membantu kamu memahami bagian mana yang membuat website lemot dan bagian mana yang justru membuat pengalaman pengguna semakin baik.

Web Developer Pemula Sering Melakukan 5 Kesalahan Ini
Web Development

Web Developer Pemula Sering Melakukan 5 Kesalahan Ini

Web Developer Pemula sering merasa semangat saat mulai belajar web development karena peluang karier di bidang teknologi terus berkembang. Saat ini, kamu bisa menemukan banyak roadmap, kursus, hingga video pembelajaran yang membahas cara menjadi seorang web developer. Namun di tengah banyaknya sumber belajar tersebut, tidak sedikit pemula yang justru merasa bingung menentukan langkah berikutnya. Bahkan, beberapa orang berhenti belajar di tengah jalan karena merasa prosesnya terlalu rumit atau tidak kunjung melihat perkembangan yang mereka harapkan. Padahal, dalam banyak kasus, masalahnya bukan karena mereka kurang berbakat atau kurang pintar. Banyak web developer pemula justru terjebak pada kesalahan yang sama saat mulai belajar. Kesalahan-kesalahan ini sering terlihat sepele, tetapi bisa membuat proses belajar menjadi lebih lambat dan terasa melelahkan. Kalau kamu sedang belajar web development, coba cek apakah kamu masih melakukan salah satunya. Web Developer Pemula Sering Terjebak pada Hafalan Kode Saat pertama kali belajar, banyak orang menghabiskan waktu untuk menghafal berbagai sintaks HTML, CSS, atau JavaScript. Mereka berusaha mengingat setiap fungsi, atribut, dan struktur penulisan kode agar terlihat seperti programmer yang andal. Padahal, kemampuan menghafal bukan faktor utama yang membuat seseorang menjadi web developer yang baik. Sebagian besar programmer profesional juga tidak mengingat semua sintaks di luar kepala. Mereka lebih fokus memahami cara kerja kode dan logika di baliknya. Ketika menemukan sesuatu yang lupa, mereka langsung membuka dokumentasi atau mencari referensi yang relevan. Karena itu, daripada sibuk menghafal semuanya, cobalah pahami konsep dan alasan setiap kode yang kamu tulis. Terlalu Lama Mengikuti Tutorial Tutorial memang membantu banyak pemula memahami dasar-dasar web development. Kamu bisa mengikuti langkah demi langkah lalu melihat hasilnya secara langsung. Cara ini sangat efektif saat kamu baru mulai belajar dan belum memahami dasar pemrograman. Namun masalah muncul ketika kamu terus bergantung pada tutorial tanpa pernah mencoba membuat sesuatu sendiri. Banyak orang bisa mengikuti puluhan video pembelajaran, tetapi langsung kebingungan saat harus membuat proyek tanpa panduan. Sehingga, banyak orang di dunia pemrograman menyebut kondisi ini sebagai tutorial hell. Untuk menghindarinya, cobalah membuat proyek sederhana setelah menyelesaikan materi tertentu. Dengan cara itu, kamu akan melatih kemampuan berpikir dan memecahkan masalah secara mandiri. Takut Saat Menemukan Error Hampir semua pemula pernah panik ketika melihat halaman kosong, tombol yang tidak berfungsi, atau pesan error yang muncul di layar. Banyak orang langsung menganggap dirinya gagal ketika menemukan masalah seperti ini. Padahal, error merupakan bagian yang sangat normal dalam dunia pemrograman. Alih-alih menghindari error, kamu justru perlu membiasakan diri menghadapinya. Setiap error biasanya memberikan petunjuk tentang apa yang perlu diperbaiki. Semakin sering kamu mencari penyebab dan solusi sebuah masalah, semakin terlatih pula kemampuan debugging yang kamu miliki. Kemampuan inilah yang nantinya akan sangat membantu ketika mengerjakan proyek yang lebih kompleks. Baca juga: 4 Rekomendasi Website Belajar Koding Gratis untuk Pemula Web Developer Pemula Sering Ingin Menguasai Semuanya Sekaligus Setelah melihat berbagai konten di internet, banyak pemula merasa harus mempelajari semuanya secara bersamaan. Hari ini belajar HTML dan CSS, besok pindah ke JavaScript, lalu tertarik mencoba React, Python, Node.js, atau bahkan teknologi lain yang sedang populer. Akibatnya, mereka kesulitan memahami satu materi secara mendalam karena perhatian terus berpindah ke hal baru. Padahal, proses belajar biasanya akan terasa lebih efektif ketika kamu fokus pada satu fondasi terlebih dahulu. Misalnya, kuasai HTML dan CSS sampai cukup nyaman menggunakannya sebelum beralih ke JavaScript. Setelah itu, baru lanjut ke teknologi lain yang memang mendukung tujuan belajarmu. Langkah yang bertahap seperti ini biasanya membuat pemahaman menjadi lebih kuat dan tidak mudah hilang. Tidak Pernah Membuat Proyek Nyata Banyak web developer pemula merasa cukup hanya dengan menyelesaikan materi kursus atau menonton video pembelajaran. Mereka terus menambah materi baru tanpa pernah mencoba menerapkannya dalam sebuah proyek. Padahal, kemampuan sebenarnya akan berkembang ketika kamu mulai membangun sesuatu yang bisa digunakan dan diuji secara langsung. Kamu tidak harus langsung membuat aplikasi yang rumit. Cobalah mulai dari proyek sederhana seperti halaman portofolio, website profil, atau landing page. Dari proyek-proyek kecil tersebut, kamu akan belajar menggabungkan berbagai materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Selain itu, hasil proyek juga bisa menjadi bagian dari portofolio yang berguna ketika melamar pekerjaan atau magang. Bagaimana Cara Menghindari Kesalahan Ini? Kabar baiknya, semua kesalahan di atas sangat wajar terjadi. Hampir setiap web developer yang saat ini bekerja di industri teknologi juga pernah mengalami fase yang sama. Yang membedakan biasanya bukan seberapa cepat mereka belajar, tetapi seberapa cepat mereka menyadari kesalahan dan memperbaiki proses belajarnya. Kalau saat ini kamu masih melakukan salah satu kesalahan tersebut, tidak perlu merasa tertinggal. Mulailah memperbaiki satu hal terlebih dahulu dan fokus pada progres kecil yang konsisten. Dengan memahami kesalahan yang sering dilakukan web developer pemula, kamu bisa belajar dengan lebih terarah dan membangun fondasi yang lebih kuat untuk perjalanan kariermu di dunia web development.

Web Development

Pemula Wajib Tahu! Simak 4 Elemen Dasar Pada Dashboard WordPress Berikut

Di zaman modern kaya sekarang, keahlian  menggunakan WordPress tuh jadi incaran banyak perusahan. Nggak heran, banyak  orang berminat buat mempelajari dan mendalami skill digital satu ini. Bagi kamu yang masih pemula tapi  punya ketertarikan besar sama  dunia WordPress. Atau justru tertarik berkarir sebagai WordPres Developer. Nggak perlu khawatir, kamu bisa kok mulai dari pelajari dasar-dasarnya. Apa Itu WordPress? Nah, kalau kamu masih asing sama istilah WordPress, gak perlu khawatir lagi karena aku bakal jelasin di kesempatan ini. Jadi WordPress tuh sejenis platform buat bikin konten, istilahnya Content Management System (CMS), dan CMS satu ini cukup populer di dunia. Orang-orang yang bikin WordPress awalnya cuma berencana jadiin platform satu ini khusus blogging aja. Eh, tahun demi tahun mulai dekembangin buat bikin website perusahaan, toko online, sampai situs berita. Langkah Dasar Menggunakan WordPress 1. Tentukan Nama Domain dan Hosting: Sebelum nentuin nama domain sama hosting, kamu harus paham tujuan utama pakai WordPress tuh apa. Misalnya kamu rencana buat toko online atau blog biasa, yaudah buat nama yang simpel aja. Pilih kata yang simpel tapi relevan, jangan sampai lupa. Nggak lucu kan kalau lupa nama website sendiri? Habis itu baru deh cari provider hosting terpercaya. 2. Istall WordPress: Kalau udah dapat nama domain dan hosting, tentu kamu harus instal dulu aplikasi WordPressnya. Cara paling mudah install WordPress bisa pakai Softaculous App Installer yang ada pada cPanel. Biar lebih paham bagian ini, kamu bisa cek tutorial di sini. 3. Pilih Tema yang Sesuai: Kalau website WordPress kamu terlalu polos dan desainnya monoton pasti pengunjung nggak betah berlama-lama. Solusinya pilih tema yang cocok sama niche website. Tema yang punya nuansa bagus dan responsif bisa bikin pengunjung betah berlama-lama. Tenang aja, buat tema ada opsi gratis dan berbayar, jadi kamu bisa sesuai sama budget juga. Buat tema WordPress yang gratis aku punya rekomendasi, namanya Astra. Yup, kamu harus instal Astra, karena fiturr gratisnya udah cukup lengkap. 4. Membuat Konten: Apa pun jenis website yang kamu buat memakai WordPress, kamu tetap akan bertemu dengan memiliki opsi posting konten. Nah, di sini kamu bisa membuat blog, halaman, hingga gambar dengan mudah. 4 Elemen Dasar Pada Dashboard WordPress 1. Bar Admin Elemen dasar pada dashboard WordPress yang pertama adalah Bar Admin. Lebih jelasnya bakal ada ilustrasi gambar di bawah ini, fokus aja sama yang ada garis merahnya. Kamu lihat bilah menu dengan warna abu-abu tua paling atas? Itu cuma bisa dilihat administrator WordPress. Artinya pengunjung umum tidak bisa melihatnya. Bar Admin sendiri berisi navigasi (arahan) bagi kamu untuk mengelola situs. Berikut ada 5 elemen yang berada pada Bar Admin: 1. Ikon Home Ikon berikutnya di bilah admin adalah ikon beranda untuk situs kamu. Mengkliknya akan mengarahkan kamu ke halaman depan publik situs. Saat kamu berada di halaman tersebut, tautan di posisi ini akan mengembalikan kamu ke Dasbor. Kamu mungkin akan merasa lebih mudah jika membuka Dasbor dan situs utama di tab browser yang terpisah, sehingga kamu dapat berpindah antar keduanya dengan cepat. 2. Ikon Notifikasi Ada dua ikon notifikasi yang bisa muncul di Bar Admin. Ikon Komentar selalu terlihat. Kalau ada komentar pending di situs kamu, ikonnya akan berubah warna dan menampilkan jumlah komentar di sampingnya. Klik ikon ini untuk menuju ke halaman komentar. Ada juga ikon update yang muncul jika ada update untuk plugin, tema, atau file inti WordPress. Klik ikon ini untuk menuju ke halaman Update. Menggerakkan kursor ke menu baru akan membuka opsi untuk membuat item baru seperti Halaman, Artikel, atau Media. Isi dari daftar ini tergantung pada peran pengguna kamu. Misalnya, jika peran kamu tidak memperbolehkan membuat pengguna baru, kamu tidak akan melihat opsi Pengguna di menu ini. Beberapa plugin juga menambahkan item tertentu di menu ini. Perlu diingat bahwa menu ini menduplikasi beberapa tautan di menu sidebar, yang akan kita bahas nanti. 3. Nama Pengguna dan Avatar Di pojok kanan atas bar admin, kamu akan melihat nama pengguna dan avatar akun kamu. Dari menu ini, kamu bisa mengklik nama atau “Edit Profil Saya” untuk pergi ke halaman Edit Profil. Kalau kamu mengklik Log Out, kamu akan keluar dari WordPress. Di bawah Admin Bar yang berwarna abu-abu tua, ada dua tab: Opsi Layar dan Bantuan. 4. Tab Opsi Layar Tab Opsi Layar ada di hampir semua halaman admin dan memungkinkan kamu mengatur elemen apa saja yang muncul di layar. Tampilan ini hanya untuk kamu, jadi ketika orang lain masuk ke Dasbor, mereka hanya akan melihat pengaturan Opsi Layar milik mereka sendiri. Klik tab Opsi Layar, dan kamu akan melihat daftar widget admin yang tersedia di halaman tersebut. Setiap widget punya kontrol checkbox untuk menampilkan elemen tertentu di layar. Halaman yang berbeda akan punya opsi yang berbeda, dan beberapa halaman, seperti Editor, akan punya lebih banyak opsi. Biasanya, tidak semua informasi ditampilkan di layar (misalnya, bagian kutipan artikel bisa tidak terlihat). Ini bisa bikin frustasi, tapi tab Opsi Layar adalah solusinya. 5. Tab Bantuan Tab bantuan, yang terletak tepat di bawah bilah admin abu-abu tua, berisi informasi tentang halaman yang sedang kamu buka [buka halaman Bantuan]. Di sini, kamu akan menemukan penjelasan tentang menu navigasi di sebelah kiri, cara mengatur tata letak halaman, dan detail konten yang kamu lihat di halaman ini. Setiap halaman di area admin akan menampilkan informasi yang sesuai di bawah tab Bantuan. 2. Isi Halaman Elemen dasar pada dashboard WordPress selanjutnya adalah isi halaman. Kamu bisa memperhatikan bagian-bagian pada gambar yang dilingkari garis merah. Bagian-bagian tersebut namanya isi halaman, Kamu bisa menampilkan dan menyembunyikan bagian-bagian tersebut dengan mudah menggunakan kotak centang di tab Opsi Layar. Selain itu, kamu juga bisa dengan mudah memindahkan posisi widget hanya dengan menyeret dan melepaskannya. Meski sekilas tampilan isi halaman pada WordPress seperti itu, namun tampilan  pada setiap dasbor WordPress bisa berbeda-beda tergantung dengan jenis Plug-In, Tempat Hosting, hingga bagaimana pengaturan yang diterapkan. Ada beberapa widget yang sudah termasuk saat WordPress diinstal, seperti: 3. Sidebar Kiri Gambar yang diberikan garis merah namanya sidebar sisi kiri WordPress. Elemen dasar pada dashboard wordpress satu ini bisa digunakan buat pindah ke area admin dengan lebih mudah. Pada bagian tersebut takan muncul sejumlah sub-menu yang dinamis untuk di-klik. Saat kamu

Scroll to Top