Prinsip Dasar UI Design: Menerapkan Hukum dan Prinsip Dasar UI Design untuk Pengalaman Pengguna Optimal
Di dunia digital yang serba cepat kayak sekarang, tampilan dan kenyamanan antarmuka aplikasi atau website jadi penentu utama apakah pengguna bakal betah atau malah kabur. Nah, di sinilah pentingnya memahami prinsip dasar UI design supaya pengalaman pengguna (user experience) jadi makin optimal. Yuk, kita bahas hukum dan prinsip dasar UI design yang sering dipakai para UI/UX designer buat bikin tampilan digital yang nggak cuma estetik, tapi juga enak banget dipakai. Hukum dan Prinsip Dasar UI Design 1. Fitts’s Law Hukum dan prinsip dasar UI design yang pertama namanya fitts’s law, atau makin besar makin gampang di klik. Intinya Fitt’s Law ini ngomongin seputar jarak, ukuran, sampai elemen di layar. Terus ngomongin juga segala ukuran itu dan pengaruhnya ke kecepatan pengguna dalam klik. Nah, makin besar tombolnya otomatis makin gampang orang nge-klik. Fitts’s Law pertama kali diperkenalkan oleh Paul Fitts pada tahun 1954. Cara Terapin Fitts’s Law di UI Design: 1. Bikin tombol gedean dikit: Jangan pelit ukuran buat tombol penting, apalagi di mobile. 2. Tempatin elemen penting deket-deket: Misalnya tombol “Beli Sekarang” deket sama foto produk, jadi user nggak perlu scroll jauh. 3. Minimalin gerakan pengguna: Supaya pengguna nggak capek bolak-balik layar cuma buat nyari fitur utama. Intinya, jangan bikin pengguna repot. Biar mereka cepat, praktis, dan nggak mikir dua kali pas pakai aplikasimu. 2. Hick’s Law Hukum dan prinsip UI design selanjutnya adalah Hick’s Law yang ngajarin para desainer nggak bikin terlalu banyak opsi. Intinya kalau terlalu banyak pilihan yang disajikan, maka pengguna juga bakal bingung buat ambil keputusan. Jadi ya bikin opsi seperlunya aja.Tokoh yang pertama kali ngusulin hick’s law adalah William Edmund Hick dan Ray Hyman pada tahun 1952. Hukum dan prinsip UI design yang ke-3 adalah gestalt, prinsip satu ini ngebahas cara otak manusia melihat dan menyortir elemen visual. Desain UI yang dianggap bagus harus menerapkan prinsip ini biar mudah dipahami pengguna. 1. Similarity (Kemiripan): Elemen yang mirip bentuk, warna, atau ukuran sebaiknya digabungin. Contoh: semua ikon navigasi punya warna dan gaya yang sama. 2. Proximity (Kedekatan): Elemen yang fungsinya saling nyambung, letakin deket-deket. Misal, label dan field input di form. 3. Continuity (Alur Visual): Desain alurnya harus ngalir. Mata user bisa langsung tahu kemana harus fokus duluan. 4. Closure (Penutupan): Kadang otak bisa “nutupin” bentuk yang nggak lengkap. Makanya logo simpel tetap bisa kuat banget. 3. Prinsip Gestalt Hukum dan prinsip UI design yang terakhir adalah mempertimbangkan aturan warna 60-30-10. Kenapa harus pakai aturan ini? Jawabannya biar desain nggak terlalu ramai, tapi tetap tampak elegan. Maksud aturan warna 60–30–10 adalah prinsip desain yang melibatkan penggunaan tiga palet warna dengan proporsi tertentu: 60% untuk warna dominan, 30% untuk warna sekunder, dan 10% untuk warna aksen. Gimana cara penerapannya? Gampang simak 3 tips ini: 1. 60% warna dominan: Dipakai buat background atau elemen besar. 2. 30% warna sekunder: Buat header, sidebar, atau elemen pendukung. 3. 10% warna aksen: Buat tombol, ikon, atau link yang pengen ditonjolkan. Nah, itulah beberapa prinsip dasar UI design yang bisa kamu terapkan buat ningkatin pengalaman pengguna (user experience). Intinya Desain UI yang oke nggak melulu seputar “tampil keren”, tapi soal gimana bikin pengguna ngerasa nyaman, gampang navigasi, dan mau balik lagi.









