UI/UX Design

Ilustrasi perbandingan desain antara landing page dan website untuk artikel digital marketing.
Web Development

Landing Page vs Website: Apa Bedanya dan Kapan Harus Menggunakan Keduanya?

Landing page dan website memiliki fungsi, struktur, dan tujuan yang berbeda. Website menyediakan ruang yang luas dan komprehensif untuk profil bisnis, layanan, blog, hingga kontak guna membangun kehadiran digital jangka panjang. Sebaliknya, landing page dirancang fokus pada satu tujuan spesifik atau kampanye promosi tertentu dengan satu ajakan bertindak (Call to Action / CTA) utama. Bisnis dapat menggunakan keduanya secara bersamaan—website sebagai pusat informasi digital dan landing page untuk mendongkrak konversi kampanye iklan.

Sering Pakai Figma? 5 Fitur Ini Bisa Bikin Kerjamu Lebih Cepat
UI/UX Design

Sering Pakai Figma? 5 Fitur Ini Bisa Bikin Kerjamu Lebih Cepat

Kalau hampir setiap hari kamu membuka Figma, mungkin kamu sudah terbiasa dengan frame, component, auto layout, dan berbagai tools dasar lainnya. Tapi, fitur Figma ternyata cukup banyak dan beberapa di antaranya sering terlewat karena letaknya nggak selalu terlihat jelas. Padahal, beberapa fitur tersebut bisa memangkas pekerjaan yang biasanya kamu lakukan berulang kali. Coba bayangkan kamu harus mengganti nama puluhan layer, mengubah banyak komponen sekaligus, atau membuat desain yang punya beberapa kondisi berbeda. Kalau kamu mengerjakannya satu per satu, waktunya tentu lebih lama. Nah, daripada terus melakukan pekerjaan yang sama secara manual, coba kenalan dengan beberapa fitur Figma berikut. 1. Rename Layers, Fitur Figma untuk Ganti Banyak Nama Sekaligus Pernah punya file Figma dengan puluhan layer bernama “Frame 1”, “Frame 2”, atau “Rectangle 34”? Kalau iya, kamu pasti tahu betapa malasnya mengganti nama semuanya satu per satu. Figma punya fitur Rename Layers yang bisa membantu kamu mengganti nama banyak layer sekaligus. Kamu cukup memilih beberapa layer, membuka menu Rename, lalu menentukan pola nama yang kamu inginkan. Fitur ini juga bisa membantu kamu membuat nama layer lebih rapi. Misalnya, kamu ingin mengubah nama beberapa ikon menjadi Icon_1, Icon_2, dan seterusnya. Kamu bahkan bisa menambahkan prefix atau mengganti bagian tertentu dari nama yang sudah ada. Kalau file desainmu mulai penuh, fitur sederhana seperti ini bisa menghemat cukup banyak waktu. 2. Component Properties Biar Nggak Bolak-Balik Edit Layer Kalau kamu sering menggunakan component, mungkin kamu pernah mengalami situasi ketika harus membuka banyak layer hanya untuk mengubah satu bagian kecil. Figma punya Component Properties yang memungkinkan kamu menentukan bagian mana dari sebuah component yang bisa diubah langsung dari panel Properties. Contohnya, kamu punya button component dengan ikon di dalamnya. Dengan boolean property, kamu bisa membuat ikon tersebut muncul atau disembunyikan tanpa harus masuk dan mengedit component secara manual. Kamu juga bisa menggunakan text property untuk mengganti tulisan atau instance swap untuk menukar komponen tertentu. Jadi, satu component bisa punya beberapa kebutuhan tanpa membuat kamu bekerja dari awal lagi. 3. Variables untuk Mengatur Banyak Nilai Sekaligus Pernah mengerjakan desain yang punya light mode dan dark mode? Kalau kamu mengubah warna satu per satu, pekerjaan bisa cepat terasa melelahkan. Nah, Variables bisa membantu menyimpan nilai seperti warna, angka, teks, dan nilai boolean yang kemudian bisa kamu gunakan kembali di berbagai bagian desain. Fitur ini juga berguna ketika kamu ingin membuat desain yang punya beberapa kondisi. Misalnya, kamu membuat tampilan aplikasi untuk light mode dan dark mode. Dengan variable modes, kamu bisa menyimpan nilai berbeda untuk setiap kondisi sehingga kamu nggak perlu membuat banyak frame hanya untuk menampilkan perubahan warna. Baca juga: 6 Rekomendasi Plugin AI Figma yang Wajib Kamu Coba 4. Suggest Auto Layout untuk Bantu Menata Layout Auto layout mungkin sudah sering kamu dengar. Fitur ini membantu elemen dalam sebuah frame menyesuaikan posisi, jarak, dan ukurannya ketika isi desain berubah. Figma juga menyediakan Suggest auto layout, yang bisa mencoba mengenali susunan objek dalam sebuah frame lalu menambahkan auto layout sesuai struktur yang ditemukan. Fitur ini cocok ketika kamu punya desain yang sudah jadi tetapi belum menggunakan auto layout. Daripada mengatur semuanya dari awal, kamu bisa mencoba Suggest auto layout sebagai titik awal. Setelah itu, kamu tetap perlu mengecek hasilnya dan menyesuaikan bagian yang belum sesuai. Lumayan buat menghemat waktu, terutama saat mengerjakan desain dengan banyak elemen. 5. Dev Mode untuk Cek Desain Sebelum Masuk Development Kalau kamu pernah bekerja bareng developer, kamu mungkin tahu bahwa proses handoff desain bisa cukup merepotkan. Developer perlu melihat ukuran, jarak, warna, aset, hingga detail komponen sebelum mulai mengerjakan kode. Figma menyediakan Dev Mode untuk membantu proses tersebut. Melalui Dev Mode, developer bisa melihat detail desain, memeriksa properti dan nilai yang digunakan, melihat variable, mengunduh aset, sampai mendapatkan potongan kode tertentu. Kamu sebagai desainer juga bisa menandai desain yang sudah siap masuk tahap pengembangan. Jadi, sebelum mengirim file ke tim developer, kamu bisa memastikan bagian yang mereka butuhkan sudah lebih mudah ditemukan. Coba Fitur Figma yang Selama Ini Kamu Lewatkan Lima fitur tadi memang bukan semuanya fitur yang baru muncul di Figma. Justru itu yang menarik. Kamu mungkin sudah lama menggunakan Figma, tetapi masih mengerjakan beberapa hal secara manual karena belum pernah mencoba fitur yang bisa membantu mempercepatnya. Coba pilih satu fitur yang paling sesuai dengan pekerjaanmu. Kalau file-mu sering berantakan, mulai dari Rename Layers. Banyak membuat component? Coba pelajari Component Properties. Untuk desain dengan beberapa kondisi, kamu bisa mengeksplorasi Variables. Nggak perlu dipelajari semuanya dalam satu hari. Pilih yang paling sering kamu butuhkan, lalu lihat sendiri apakah workflow-mu terasa lebih cepat.

Gak Cuma Figma! 4 Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan
UI/UX Design

Skill UI/UX yang Bikin Kamu Dilirik Perusahaan, Gak Cuma Figma!

Kalau kamu baru mulai belajar UI/UX, kemungkinan besar Figma jadi tools pertama yang kamu pelajari. Memang tidak ada yang salah dengan itu karena banyak desainer juga memulai perjalanan mereka dari sana. Namun, skill UI/UX yang dicari perusahaan ternyata tidak berhenti di kemampuan membuat tampilan yang rapi atau menyusun prototype. Saat masuk ke dunia kerja, perusahaan biasanya mencari desainer yang mampu memahami pengguna, bekerja sama dengan tim, dan ikut membantu menyelesaikan masalah melalui desain. Banyak pemula merasa sudah cukup percaya diri setelah menguasai berbagai fitur di Figma. Mereka bisa membuat wireframe, menyusun component, atau bahkan membuat desain yang terlihat menarik. Padahal, kemampuan menggunakan tools hanyalah langkah awal. Perusahaan lebih menghargai desainer yang mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan desain daripada sekadar menghasilkan tampilan yang estetik. Pahami Design System Sejak Awal Banyak perusahaan sekarang menggunakan design system supaya proses desain berjalan lebih konsisten dan efisien. Karena itu, mereka juga mulai mencari desainer yang memahami cara menggunakan, mengembangkan, dan menjaga konsistensi design system. Skill ini membantu tim bekerja lebih cepat karena semua orang menggunakan komponen, warna, dan gaya desain yang sama dalam setiap produk. Kamu tidak harus langsung membuat design system yang rumit untuk mempelajarinya. Mulailah dari proyek sederhana dengan membiasakan diri menggunakan component, style, dan aturan desain yang konsisten. Kebiasaan kecil seperti ini akan membuat proses desainmu terasa lebih rapi sekaligus menunjukkan bahwa kamu sudah memahami cara kerja tim desain di perusahaan. Baca juga: UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu? Jangan Lewatkan Pentingnya User Research Desain yang bagus tidak selalu berasal dari ide desainer sendiri. Banyak keputusan desain justru muncul setelah tim memahami kebutuhan dan kebiasaan pengguna. Karena itu, banyak perusahaan mencari desainer yang mampu melakukan user research. Melalui proses ini, desainer dapat mengidentifikasi masalah yang benar-benar pengguna alami sebelum merancang solusi. User research tidak selalu berarti melakukan penelitian yang rumit. Kamu bisa memulainya dengan wawancara sederhana, menyebarkan kuesioner, atau mengamati bagaimana seseorang menggunakan sebuah aplikasi. Dari proses tersebut, kamu akan menemukan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan saat hanya melihat desain dari sudut pandangmu sendiri. Manfaatkan AI dengan Bijak untuk Meningkatkan Skill UI/UX Saat ini, banyak tools AI yang membantu desainer bekerja lebih cepat. Kamu bisa menggunakannya untuk mencari inspirasi, membuat wireframe, menyusun microcopy, atau mempercepat proses brainstorming. Namun, perusahaan tidak mencari desainer yang hanya mengandalkan AI. Mereka justru lebih menghargai orang yang tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan pemikiran sendiri. Karena itu, kamu tidak perlu menjadi ahli AI untuk mulai berkarier di bidang UI/UX. Cukup pahami bagaimana AI membantu proses desain tanpa menggantikan kreativitas maupun kemampuan berpikir kritis. Dengan cara itu, kamu bisa memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaan, bukan sebagai satu-satunya andalan. Skill UI/UX yang Dicari Perusahaan: Membuat Micro-interactions Pernah memperhatikan animasi kecil saat menekan tombol, membuka menu, atau menerima notifikasi di sebuah aplikasi? Detail seperti itu disebut micro-interactions. Walaupun terlihat sederhana, elemen kecil ini membuat pengalaman pengguna terasa lebih hidup dan membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di dalam aplikasi. Perusahaan mulai memberikan perhatian lebih pada micro-interactions karena detail kecil sering memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengguna. Kamu tidak perlu membuat animasi yang berlebihan. Fokus saja pada feedback sederhana yang membantu pengguna memahami setiap tindakan yang mereka lakukan saat menggunakan aplikasi. Jadi, Apakah Jago Figma Sudah Cukup? Jawabannya tentu belum. Perusahaan tidak hanya menilai kemampuan menggunakan Figma, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan merancang pengalaman pengguna. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memecahkan masalah, memahami pengguna, berkolaborasi dengan tim, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan produk. Itulah alasan kenapa skill UI/UX di luar Figma mulai menjadi nilai tambah yang cukup penting. Kalau kamu ingin berkarier sebagai UI/UX Designer, jangan berhenti setelah merasa nyaman menggunakan Figma. Mulailah mempelajari design system, membiasakan diri melakukan user research, memanfaatkan AI secara bijak, dan memahami pentingnya micro-interactions. Semakin banyak pengalaman yang kamu bangun di bidang tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk menarik perhatian perusahaan dan berkembang sebagai desainer profesional.

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI
UI/UX Design

5 Cara UI/UX Designer Beradaptasi di Era AI

Beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) benar-benar mengubah cara banyak orang bekerja. Sekarang, berbagai tools sudah bisa membantu membuat wireframe, menyusun user flow, sampai menghasilkan tampilan antarmuka hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah profesi UI/UX Designer masih punya masa depan yang menjanjikan? Wajar kalau pertanyaan itu muncul, apalagi setiap hari selalu ada teknologi baru yang terus berkembang. Kalau kamu juga memiliki kekhawatiran yang sama, tenang dulu. Sampai hari ini, perusahaan tetap membutuhkan UI/UX Designer yang mampu memahami kebutuhan pengguna dan menyelesaikan masalah lewat desain. AI memang bisa mempercepat proses kerja, tetapi teknologi ini belum mampu menggantikan empati, cara berpikir, dan kreativitas manusia. Justru sekarang menjadi waktu yang tepat untuk belajar memanfaatkan AI sebagai pendukung, bukan sebagai pesaing. UI/UX Designer Perlu Melihat AI Sebagai Partner Kerja Banyak orang langsung menganggap AI sebagai ancaman karena mampu menghasilkan desain dalam waktu singkat. Padahal, kamu bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya berulang. Misalnya, mencari referensi desain, membuat beberapa alternatif layout, atau merangkum hasil user research. Dengan begitu, kamu punya lebih banyak waktu untuk memikirkan solusi terbaik bagi pengguna. Seorang UI/UX Designer tetap memegang kendali dalam setiap keputusan desain. Kamu yang menentukan arah produk, memilih solusi yang paling relevan, lalu memastikan setiap elemen benar-benar membantu pengguna mencapai tujuannya. Selama kamu menggunakan AI sebagai alat bantu, teknologi ini justru bisa membuat proses desain menjadi lebih efisien. Jangan Berhenti Melatih Cara Berpikir Seorang Desainer Banyak tools sekarang mampu menghasilkan tampilan yang terlihat menarik. Namun, tampilan yang bagus belum tentu mampu menyelesaikan masalah pengguna. Karena itu, seorang UI/UX Designer perlu terus melatih kemampuan berpikir kritis dan memahami alasan di balik setiap keputusan desain. Kemampuan inilah yang membuat hasil kerjamu memiliki nilai lebih dibanding sekadar desain yang terlihat estetik. Saat mengerjakan sebuah proyek, biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Masalah apa yang sedang aku selesaikan?” atau “Apakah solusi ini benar-benar memudahkan pengguna?”. Kebiasaan sederhana seperti ini akan membentuk pola pikir yang jauh lebih penting daripada sekadar menguasai banyak tools. Gunakan AI untuk Mempercepat Proses Belajar Kalau dulu kamu harus membuka banyak artikel atau menonton video selama berjam-jam untuk mencari jawaban, sekarang kamu bisa memanfaatkan AI sebagai teman belajar. Kamu bisa meminta penjelasan tentang prinsip desain, berdiskusi mengenai design system, atau mencari ide ketika mengalami creative block. Cara ini membantu kamu memahami konsep dengan lebih cepat sekaligus memperluas sudut pandang. Meski begitu, jangan langsung menerima semua jawaban yang diberikan AI. Biasakan membandingkan informasi tersebut dengan dokumentasi resmi, guideline, atau pengalaman para praktisi. Kebiasaan ini akan membuat proses belajarmu menjadi lebih kritis sekaligus membantu kamu membangun pemahaman yang lebih kuat. Baca juga: Desain Bagus Tapi Membingungkan Pengguna? Kenali 5 Tandanya Bangun Portofolio yang Menunjukkan Proses Berpikirmu Saat ini, banyak orang bisa menghasilkan desain yang menarik dengan bantuan AI. Karena itu, perusahaan tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana proses berpikirmu. Mereka ingin melihat bagaimana kamu memahami masalah, melakukan user research, menentukan prioritas, lalu memilih solusi yang paling tepat untuk pengguna. Kalau kamu sedang menyusun portofolio, jangan hanya menampilkan hasil desain yang sudah jadi. Ceritakan juga proses yang kamu lalui, tantangan yang kamu hadapi, serta alasan di balik setiap keputusan desain. Portofolio seperti ini akan membantu perusahaan memahami kemampuanmu sebagai UI/UX Designer, bukan sekadar melihat hasil visualnya. Terus Asah Kemampuan yang Tidak Bisa Digantikan AI Teknologi memang terus berkembang, tetapi beberapa kemampuan tetap menjadi keunggulan manusia. Misalnya, kemampuan berempati, berkomunikasi dengan stakeholder, berdiskusi bersama tim, dan memahami kebutuhan pengguna dari berbagai sudut pandang. Semua kemampuan tersebut membutuhkan interaksi, pengalaman, dan pertimbangan yang belum mampu dilakukan AI secara utuh. Karena itu, jangan hanya fokus mempelajari tools terbaru. Luangkan waktu untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, problem solving, dan critical thinking. Semakin kuat kemampuan tersebut, semakin besar pula peluangmu untuk berkembang sebagai UI/UX Designer di tengah perubahan industri. AI Membantu UI/UX Designer Berkembang, Bukan Menggantikan Perkembangan AI memang membawa banyak perubahan dalam dunia desain. Namun, perubahan itu bukan berarti profesi UI/UX Designer akan menghilang. Sebaliknya, teknologi ini membuka kesempatan baru bagi desainer untuk bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih fokus menyelesaikan masalah yang benar-benar penting bagi pengguna. Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Cara kamu menggunakannya akan menentukan hasil yang kamu dapatkan. Kalau kamu terus belajar, mau beradaptasi, dan tetap mengutamakan kebutuhan pengguna dalam setiap desain, kamu tidak perlu takut menghadapi perkembangan teknologi. Justru, kemampuan beradaptasi itulah yang akan membuatmu menjadi UI/UX Designer yang semakin relevan di masa depan.

UI Designer atau UX Researcher_ Mana yang Cocok Buat Kamu
UI/UX Design

UI Designer atau UX Researcher? Mana yang Cocok Buat Kamu?

UI Designer atau UX Researcher? Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang mulai tertarik masuk ke dunia UI/UX. Banyak orang awalnya mengira semua pekerjaan di bidang ini sama saja karena sama-sama berhubungan dengan desain aplikasi atau website. Padahal, UI Designer dan UX Researcher punya fokus kerja yang cukup berbeda. Semakin cepat kamu memahami perbedaannya, semakin mudah juga menentukan jalur belajar yang paling sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Kebingungan ini sebenarnya sangat wajar, terutama bagi mahasiswa dan fresh graduate yang baru mulai mengenal dunia desain digital. Apalagi sekarang banyak konten di media sosial yang membahas UI/UX tanpa menjelaskan peran-peran yang ada di dalamnya. Akibatnya, banyak orang langsung belajar Figma tanpa benar-benar memahami posisi mana yang ingin mereka tekuni. Padahal, memahami tujuan belajar sejak awal bisa membuat proses belajarmu terasa jauh lebih terarah. UI Designer atau UX Researcher, Apa Bedanya? Meski sering berada dalam satu tim yang sama, UI Designer dan UX Researcher punya fokus pekerjaan yang berbeda. Mereka sama-sama menciptakan produk digital yang memberikan pengalaman nyaman bagi pengguna, tetapi cara kerja keduanya berbeda. Justru perbedaan inilah yang membuat keduanya saling melengkapi selama proses pengembangan produk berlangsung. Kalau diibaratkan sebuah tim film, UX Researcher mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan penonton. Setelah mengumpulkan berbagai temuan, UI Designer menerjemahkan informasi tersebut menjadi tampilan yang menarik sekaligus mudah dipahami pengguna. Karena itulah banyak perusahaan membutuhkan kedua peran ini agar produk yang mereka buat tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga benar-benar berguna bagi pengguna. Apa yang UI Designer Kerjakan? UI Designer atau User Interface Designer berfokus pada tampilan sebuah produk digital. Mereka merancang tampilan aplikasi atau website agar pengguna bisa menggunakannya dengan nyaman dan mudah. Mulai dari pemilihan warna, tipografi, ikon, tata letak, hingga konsistensi visual menjadi bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar membuat desain terlihat menarik, tetapi juga membantu pengguna memahami fungsi setiap elemen dengan lebih mudah. Karena itu, UI Designer biasanya cukup dekat dengan berbagai tools desain seperti Figma. Namun pekerjaan mereka tidak berhenti pada membuat tampilan yang estetik saja. Mereka juga perlu memastikan setiap elemen visual membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan nyaman. Desain yang bagus tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membantu pengguna menyelesaikan tujuan mereka dengan lebih mudah. Kalau kamu termasuk orang yang suka mengeksplorasi visual, memperhatikan detail, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih rapi dan menarik, jalur UI Designer mungkin terasa lebih cocok. Kalau kamu suka kreativitas dan desain visual, jalur ini bisa terasa menyenangkan karena kamu bisa langsung mengubah ide menjadi tampilan yang bisa dilihat dan digunakan banyak orang. Apa yang Dikerjakan UX Researcher? Berbeda dengan UI Designer, UX Researcher atau User Experience Researcher lebih fokus memahami pengguna. Mereka mencari tahu kebutuhan, kebiasaan, masalah, hingga alasan seseorang menggunakan sebuah produk digital. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk membuat keputusan yang lebih tepat saat mengembangkan produk. Karena itu, UX Researcher banyak menghabiskan waktu untuk melakukan riset dan mengumpulkan data. Seorang UX Researcher bisa melakukan wawancara pengguna, menyebarkan survei, mengamati perilaku pengguna, hingga menganalisis berbagai data yang mereka kumpulkan selama proses riset. Lewat proses tersebut, mereka membantu tim memahami kebutuhan pengguna, menemukan hambatan yang sering muncul, dan menentukan solusi yang paling tepat untuk mengatasinya. Hasil riset ini kemudian menjadi acuan bagi tim desain maupun tim pengembang. Kalau kamu lebih suka menganalisis perilaku manusia, mencari pola dari data, atau penasaran dengan alasan seseorang mengambil keputusan tertentu, jalur UX Researcher bisa menjadi pilihan yang menarik. Posisi ini biasanya cocok untuk orang yang senang melakukan observasi, riset, dan berpikir secara analitis. Baca juga: Tips Desain UX, Cara Mudah Ciptakan Pengalaman Pengguna yang Nyaman dan Optimal UI Designer atau UX Researcher, Siapa yang Lebih Sering Menggunakan Figma? Ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemula. Banyak orang mengira semua profesi dalam UI/UX harus mahir menggunakan Figma. Faktanya, UI Designer memang menggunakan Figma hampir setiap hari karena pekerjaan mereka berhubungan langsung dengan pembuatan tampilan visual dan prototype. Sementara itu, UX Researcher tidak selalu menghabiskan banyak waktu di Figma. Mereka lebih sering menggunakan tools riset, dokumen, survei, atau platform analisis untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dari pengguna. Karena itu, kalau alasan utamamu tertarik UI/UX adalah karena suka mendesain tampilan aplikasi, kemungkinan besar jalur UI Designer akan terasa lebih dekat dengan minatmu. UI Designer atau UX Researcher, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula? Sebenarnya tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak. Semuanya kembali pada hal yang paling membuatmu tertarik untuk dipelajari lebih dalam. Kalau kamu sering memperhatikan tampilan aplikasi, suka mengatur warna dan tata letak, atau senang membuat sesuatu terlihat lebih menarik, UI Designer bisa menjadi pilihan yang tepat. Sebaliknya, kalau kamu lebih tertarik memahami perilaku pengguna dan mencari alasan di balik sebuah masalah, UX Researcher mungkin akan terasa lebih cocok. Daripada terlalu sibuk memikirkan mana yang lebih keren atau lebih populer, lebih baik fokus memahami karakter dan minatmu sendiri. Banyak profesional UI/UX juga memulai perjalanan mereka dengan mencoba berbagai hal sebelum akhirnya menemukan bidang yang paling sesuai. Jadi, tidak masalah kalau saat ini kamu masih belum yakin sepenuhnya. Apakah Harus Memilih Salah Satu? Tidak juga. Banyak orang mempelajari dasar UI dan UX secara bersamaan ketika pertama kali masuk ke dunia desain digital. Dengan memahami keduanya, kamu bisa melihat gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana sebuah produk dibuat. Pengetahuan ini juga membantu kamu menentukan bidang mana yang paling menarik untuk ditekuni dalam jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, biasanya kamu akan mulai menemukan bagian yang paling kamu nikmati. Ada yang akhirnya lebih fokus menjadi UI Designer karena suka membuat tampilan visual. Ada juga yang memilih menjadi UX Researcher karena lebih menikmati proses memahami pengguna dan memecahkan masalah. Apa pun pilihanmu, keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam dunia produk digital. Pada akhirnya, pertanyaan tentang UI Designer atau UX Researcher bukan soal mana yang lebih baik. Pertanyaan yang lebih penting adalah bidang mana yang paling sesuai dengan cara kamu berpikir dan belajar. Ketika kamu memilih jalur yang sesuai dengan minatmu, proses belajar biasanya terasa lebih menyenangkan dan lebih mudah dijalani. Jadi, kalau saat ini kamu masih bingung harus mulai dari mana, cobalah mengenal keduanya terlebih dahulu. Dari sana, kamu akan lebih mudah menemukan

UI/UX Design

3 Tips Jadi Figma Expert: Kuasai Hi-Fi, Dokumentasi, & Desain Lanjutan

Sejumlah tips jadi Figma expert merupakan topik menarik bagi kamu yang suka sama dunia UI/UX design. Pasalnya, Figma jadi salah satu alat yang sangat powerfull  buat bikin desain UI/UX, jadi ningkatin kemampuan sampai level expert sangat-sangat diperlukan. Kabar baiknya, kalau kamu udah jago pakai Figma buat bikin desain antar muka, kamu ada di jalur yang bener. Tapi skill drag & drop aja masih kurang cukup buat mencapai level expert. Di artikel ini bakal dikupas mendalam 3 tips utama yang bisa kamu praktekkan biar jadi seorang Figma Expert. Penasaran apa aja tips nya, let’s check this out. 3 Tips Jadi Figma Expert 1. Kuasai Hi-Fi Interaction & Animation Tips jadi Figma expert yang pertama adalah  menguasai Hi-Fi (High Fidelity) Interaction & Animation. Pertanyaannya apa itu Hi-Fi Interaction & Animation? Gampangnya semacam teknik biar desain kamu mendekati bentuk akhir aplikasi beneran. Yup, kalau bisa lengkap juga sama interaksi plus animasi yang detail. Karena pada praktiknya,  desain nggak melulu soal tampilan. Pada level expert, kamu harus bisa buat desain yang tampak interaktif, dinamis, dan tampak realistis. Ada 3 langkah mudah biar kamu bisa terapin Hi-Fi Interaction & Animation: 2.  Dokumentasi Desain Tips jadi Figma expert selanjutnya adalah bikin dokumentasi desain. Dokumentasi bisa jadi jembatan utama buat desainer, developer, dan tim produk. Makannya, dokumentasi yang jelas sangat penting, karena tanpa dokumentasi yang memadai, desain kamu bisa disalah artikan bahkan berpotensi bikin pengembangan jadi berantakan. Supaya proses dokumentasi kamu berjalan dengan baik perhatikan point berikut: 3. Peningkatan Desain Tips jadi Figma expert satu ini kadang masih diremehkan, padahal desain nggak melulu soal estetika. Tetapi kemampuan buat berkembang dan beradaptasi. Jadi, mau-nggak mau, kamu harus meningkatkan kemampuan desain dengan banyak belajar dan berinovasi. Supaya peningkatan desain kamu berjalan sesuai harapan lakukan 3 hal ini: Nah, itu tadi 3 tips jadi Figma expert yang bisa kamu cobain. Intinya jadi pengguna Figma nggak cukup cuma tahu tools aja. Kamu juga harus ngerti dan bisa bikin komunikatif, fungsional, dan selalu update dengan trend desain terkini.

Scroll to Top